Aku menutup lembaran Quran terjemahan itu. Mataku selalu terbias oleh surat An Nuur : 32 setiap kali aku hendak membuka mushaf itu.
Aku ingat, seorang ikhwan diperkenalkan dihadapanku. Aku sedikit canggung dan kelabakan dihadapannya. Aku tidak pernah sedikitpun bertanya banyak pada murobiku, apa dan siapa ikhwan di hadapanku ini. Aku hanya menunggu. Aku bingung. Apa yang harus aku kerjakan? Ikhwan ini mengerti sekali tentang biodataku, tidak ada yang perlu aku ceritakan lagi tentang diriku. Semua ada di bank biodatanya.
“afwan ya ukhti, bagaimana pendapat anti tentang pernikahan?”pertanyaannya menggugah lamunanku. Aku makin gelagapan. Aku tau mungkin ini sangat tidak mudah. Kita dilarang keras oleh murobi masing-masing untuk ber-sms atau ngobrol via telpon dengan seorang ikhwan dari pukul 6 sore hingga pukul 6 pagi. Tapi ini, seorang ikhwan langsung menanyakan padaku. Aku hanya terdiam dna menunduk malu. masyaAlloh hatiku, apa yang sekarang sedang engkau fikirkan…
“em,,pernikahan,,em,,gimana ya?”tanyaku balik.
Whats???bagaimana ini??aku terbiasa mengisi pengajian dan berbicara di depan murid-murid binaanku, terbiasa mendengar keluh kesah teman-temanku, terbiasa memimpin suatu rapat, terbiasa ini, itu yang berhubungan dengan khalayak ramai,,tapi hari ini,,???seorang “aku” tidak bisa berkutik apa-apa di depan seorang ikhwan…
Leher ini rasanya tercekik untuk mengeluarkan kata-kata..
“waduh, mungkin ikhwan ini ilfil ma aku”seru batinku.
Tapi tidak, ikhwan tadi hanya tersenyum dan bersabar menunggu jawabanku..
Termasuk murobiku yang menyeritkan dahi, aneh melihat tingkah lakuku hari ini…akhwat yang terbiasa supel, tersenyum, aktivis dan lincah..sekarang kayak kucing baru disiram air dingin..
Ikhwan tadi melanjutkan pembicaraannya. “afwan ukhti, ana pegawai negeri baru, sekarang ana baru menjalankan 100%, afwan mungkin belum bisa seperti yang diharapkan, apa anti tidak keberatan untuk menerima ana apa adanya?”
Pegawai negeri, swasta, wiraswasta atau apapun antum, kita sama-sama mencari makan untuk sehari-hari, tujuan utama kita sebagai khalifah Alloh dimuka bumi ini adalah untuk menyerukan tauhid…”jawabku sekenanya dan mencoba berdiplomasi.
“ukhti ana tau anti berasal dari keluarga yang terpandang, selain itu sangat sulit untuk menembus pertahanan keluarga anti. Afwan bukan ana berdalih, tapi ana sudah mendapatkan beberapa informasi tentang keluarga anti..”
Aku menyeritkan dahi. Ini mau mencari istri atau mau introgasi status social??
“bagaimana konsep sunnah Rosululloh tentang pernikahan, ana yakin anti pasti lebih faham..”serunya.
Aku tak bergeming. Aku hanya diam. Apa salahku bila aku dilahirkan dikeluarga terpandang?aku tidak pernah salah, Alloh meletakkan aku di antara mereka, Alloh menakdirkan aku disana. Pun jika ada ikhwan yang berani menghadapi keluargaku, akan aku berikan acungan jempol. Aku pun akan melihatnya bukan karena status social ataupun ekonominya, tapi statusnya dihadapan Alloh.
Seiring dengan ini, aku berharap dia bisa menjadi pejuangku. Pejuang yang menemaniku dalam setiap langkah hidupku, yang menerangi langkahku dalam perjalanan dakwah ini. Dari sini, aku bisa mengenalnya dalam jejak langkah hidupku. Bersamanya kami mengarungi hidup ini, tanpa lelah dan letih menjalani kehidupan. Dia adalah separuh hidupku, karenanya aku makin mencintai Alloh, karenanya aku tidak akan menghabiskan hidupku dengan sia-sia. Karenanya aku bekerja keras untuk menggapai ridha-Nya. Bukan dia anak pejabat atau seorang yang memiliki multi talenta atau dia seorang pembisnis, tapi murni dia adalah pejuang dakwah yang rela untuk menghabiskan sisa-sisa hidupnya untuk berjuang bersamaku, pejuang yang rela menghabiskan bagian hidupnya untuk menolong agama Alloh. Suatu keikhlasan yang nyata dari seorang ikhwan yang shalih. Yang aku tunggu hanyalah orang yang menerima keadaanku apa adanya. Tanpa melihatku itu siapa, tanpa malu menurunkan derajatnya bila berada di depan keluargaku, atau tanpa berdalih apapun tentang keadaanku. Aku hanya menunggu ikhwan shalih, yang ikhlas menuntunku menuju ridha-Nya, yang ikhlas memberikan sebagian hidupnya untuk membimbing dan mendidikku.
Tidak ada yang mau diperlakukan seperti ini, tidak ada yang mau dikecewakan hanya karena alasan berasal dari keluarga terpandang. Aku juga bagian dari semua, aku juga akhwat yang ingin menjadi shalih, aku juga akhwat yang berusaha mencari keridhaan-Nya.
Akhirnya biodata ditanganku itu aku kembalikan kepada murobiku. “afwan ya ustadz, ana hanya menginginkan seorang lelaki shalih yang dating tanpa melihat status dan menerima keadaan ana apa adanya..yang menerima ana karena yakin dengan ana dia bisa mengarungi jalan bersama untuk menuju ridha Alloh”
Ustadzku hanya mengangguk dan tersenyum. Aku yakin dalam hati kecilnya, beliau sefaham denganku…sudahlah, semua sudah menjadi bagian dari scenario-Nya, biarlah Dia yang menunjukkan jalan-Nya..
Aku pun berlalu dan berlalu. Seiring perjalananku untuk menuju ridha-Nya.
Alloh aku yakin Engkau akan memberikan ganti yang lebih baik dari semua yang pernah hadir dihadapanku..
Bangsalan ulin, Tideng pale suatu sore…
28 Juli 2009 ; 16:50
Akhwat jangan pernah runtuh dengan tirani hati
Ikhlaslah dengan apa yang ada dihatimu…

