Archive for Oase

aku bukan ninja

“ninja, ninja lewat..”kalimat itu sering aku dengar. Terkadang orang-orang disekitarnya sedikit menjauh ketika dia lewat. Penampilannya biasa saja, tingginya kira-kira 160cm, badannya bongsor dengan kulit sedikit cokelat. Dia melangkah dengan santai. Dengan berjubah, kerudung menjulur hingga setengah lututnya, berkerudung hitam dan berjubah hitam, yang tidak pernah lepas adalah cadar yang menutupi wajahnya. Dia terbiasa dengan keadaan seperti itu. Ketika melewati perumahan di kampungnya, anak-anak, ibu-ibu dan bahkan keluarganya sendiripun mencemoohnya. Dia tetap tidak peduli, apapun kata orang tentang dia. Dia terus melangkah. Dia yakin, hanya Alloh yang maha mengetahui hati masing-masing tiap individu. Terkadang dia disebut kelompok gembong terrorist, tdak sedikit ibu-ibu yang memandang sinis kepadanya.

Ketika tiba dirumah, keluarga, terutama ibunya terus menghujatnya dengan pakaiannya. Dikatakan nenek-nenek, bibi sayur, hingga hal-hal yang menyakitkan hati bila di dengar telinga. Tapi Alloh Maha Baik, Alloh tidak pernah menguji seorang hamba diluar batas kemampuan hamba-Nya tadi. Alloh menguatkan hatinya, Alloh telah menghiburnya dengan mengumplkannya bersama teman-teman yang sefikrah dengannya.

Hingga hari ini pun dia tetap bertahan dengan prinsipnya, dia tetap bertahan dengan jubah, kerudung dan cadar yang dia kenakan. Dia yakin, suatu hari Alloh akan memberikan kebahagiaan di balik keistiqomahannya. Alloh akan memberikan kesenangan dibalik semua ujian tahap awal dimulainya perjuangan ini.

Aku tau, dia wanita shalihah yang kuat, dia wanita shalihah yang selalu istiqomah dengan segala ujian dan tekanan hidup, dia wanita shalihah yang selalu bertahan dengan semua ancaman yang ada. Bahkan ibunya sering mengancam, bila dia tetap bergabung dengan teman-temannya, bila dia tetap berpakaian seperti itu, ibunya tidak akan mengakuinya sebagai bagian dari keluarga.

Setiap dikatakan ninja atau terrorist, dia hanya berdzikir dalam hati, semoga Alloh memaafkan orang-orang yang menghujat sunnah-Nya. Dia bersikap tawakal terhadap apa yang dikatakan padanya, baginya apa yang dilakukannya adalah sebuah keikhlasan, keikhlasan untuk asing dari yang lain, keikhlasan untuk selalu dikomentarin orang sekitarnya, keikhlasan untuk berbeda dan menjadi bagian dari ejekan. Semua adalah bentuk keikhlasan kita, semakin kita mencintai Alloh semakin rela kita dengan apa yang menjadi bagian dalam ketentuan-Nya, semakin ikhlas kita menerima ilmu yang diturunkan Rasululloh, sebagai qudwah kita.

Berpakaian muslimah seperti sekarang ini, adalah ejekan, hinaan buat orang-orang yang tidak mengetahui, orang-orang yang tidak berilmu, orang-orang yang berilmu tapi malu mengakui keislamannya. Berjubah di anggap aneh, bergelap-gelap di anggap aneh, berkerudung panjang di anggap aneh, rasululloh pernah mengisyaratkan, bahwa islam datang dalam keadaan asing, kemudian kembalinya dalam keadaan asing, dan beruntunglah orang-orang yang asing, jadilah orang yang meninggal dalam keadaan asing sebelum kiamat mendatangin kita, karena dengan kiamat berarti banyak fitnah-fitnah akhir jaman yang melanda manusia. Jadilah manusia akhir jaman yang asing, melakukan sunnah di jaman yang serba fitnah ini, bercelana di atas mata kaki, berjenggot, berjubah, di anggap aneh bahkan di anggap gila, di anggap pendukung teroris. Tapi mereka tidak pernah sadar, secara tidak langsung mereka telah menghina sunnah, telah menghina ajaran Muhammad, telah menghina islam. Mereka tidak pernah sadar, ketika masjid di rusak, mereka marah besar, tetapi ketika ada orang yang mengikuti syari’at islam, mereka malah mengejeknya.

tapi Alloh Maha Menunjukkan jalan hamba-hamba-Nya yang tetap istiqomah,,

dan hingga akhirnya dia akan tersenyum dengan semua keistiqomahannya kelak, bersama kesulitan ini, Alloh akan memudahkan langkah-langkahnya..

dan dia pun akan berkata kelak,,”aku bukan ninja”

sabandar lama, 05082009

05.00 pagi

Ikhlaslah ukhti, insyaAlloh surga akan menantimu

Dia adalah salah seorang umahat di tempat kami. Seorang yang pendiam menurutku. Tidak pernah terlintas sesuatu dari bibirnya bila itu tidak terlalu penting. Seperti hari itu, dia datang terlambat. Dengan berlari-lari kecil, karena sudah tertinggal beberapa menit. Dengan nafas terengah-engah dia duduk disebelahku.                                                                                                                “sudah lama kajiannya?”tanyanya membuka pembicaraan denganku.

“baru aja um, 10 menit-lah”jawabku mengira-ngira.

Kemudian dia terdiam dan mendengarkan kajian yang disampaikan oleh murobi kami. Seperti biasa, dia hanya diam dan diam. Sesekali aku melirik ke arahnya. Wajahnya tampak tenang dan teduh.

“um, anak-anaknya kemana?”tanyaku iseng. Dia meoleh ke arahku dan tersenyum.

“sama uminya, nanti malam saya ambil dengan abinya”jawabnya singkat. Aku hanya menyeritkan dahi. Maksudnya?

“umi mana nih um?”tanyaku lagi.

“umi kandungnya. Ana kan umi asuh”dia tertawa kecil. Ada umi kandung, ada umi asuh. Berarti ada abi kandung, ada abi asuh. Hubungan yang lucu. Percakapan itu berakhir dan hingga selesai aku tidak pernah bertanya lebih tentang hubungan aneh itu. Selang sepekan kemudian, dia datang lagi berserta anak-anaknya mengikuti kajian. Kali ini duduk persisi disebelahku lagi.

“subhanAlloh, sore-sore udah ikut umi ngaji ya?”tanyaku pada anaknya yang perempuan.

“iya, uminya sedang pergi, jadi ana yang bawa kesini”

“oh, uminya dimana um?”

“ana uminya juga” Benar, ini hubungan yang aneh. Belakangan, dari pembicaraan tidak sengaja seorang teman. Aku baru tau kalau dia adalah pelaksana poligami. Aku baru tau, dia istri ke dua. Istri pertama sang suami memiliki 5 orang anak yang masih kecil-kecil dan dia berbagi tugas dengan sang madu. Subhanalloh. Beberapa hari sekali dia mengasuh anak-anak itu, apabila sang madu sibuk, dia dengan suka rela mengasuh dan menjadi anak-anaknya. Suatu hari aku pernah bertanya kepadanya tentang sebuah poligami, dengan hati yang ikhlas dia mengatakan, bahwa apa yang dia lakukan itu semata-mata karena Alloh, perjuangan untuk Alloh. Sebelum menikah,banyak ikhwan yang mengincar untuk menjadikannya istri, tetapi ketika sang suami sekarang melamarnya dengan cara dipoligami, dengan keikhlasan dan keridhaan dia menjalani dan menerima pinangan itu.

“dia menyelamatkan saya untuk ke surga mbak, tau gak kalau kita ikhlas dipoligami, pintu surga akan terbuka lebar untuk kita”

“Alloh tidak pernah menzalimi hamba-Nya, saya bersyukur mbak, dengan dipoligami banyak ibadah-ibadah yang tidak pernah saya sadari sebelumnya bisa saya kerjakan dan insyAlloh akan dibalas oleh Alloh”

“saya mengasuh anak-anak yang bukan anak saya, dan itu bernilai ketenangan dan luar biasa indahnya buat saya, suami saya bisa berlaku adil terhadap kami, beliau bisa menjalankan amanah dengan dua istri, dan saya bisa menjaga hubungan silaturahmi dengan istri pertama suami saya dan ikut mendidik serta membesarkan anak-anak mereka dengan balutan kasih sayang Alloh untuk mereka, banyak ibadah yang disampaikan Alloh melalui poligami yang kita sendiri tidak pernah menyadarinya”

“semula saya berfikir, poligami menzalimi perempuan, tapi tahukah mereka, bahwa dengan hati yang ikhlas dengan hanya berharap itu ibadah kepada-Nya, pintu surga akan terbuka lebar untuk kita”

subhanAlloh, Allohu ya Kariim, tiada henti aku bertasbih kepada-Mu, Engkau Maha bijaksan dengan segala ketentuan-Mu. Dengan tulus ikhlas dia berkata :

“jika ukhti ikhlas dengan semua ketentuan Alloh dan menjadikannya ibadah untuk-Nya, ketentraman dan surga akan ada dihadapan anti…

” Allohu Rabbi, tiada kata indah yang Engkau ciptakan untuk kami kecuali keikhlasan dan kesabaran dalam mengarungi kehidupan dan seisinya ini..

Wanita, relakah engkau dipoligami?dengan balasan surga menantimu, jika kau mengharapkan ridha-Nya, Dia akan limpahkan segalanya buatmu…

Wanita, relakah engkau menjalankan dunia untuk-Nya?meski didunia ini engkau akan dipandang sebelah mata sebagai istri kedua?tapi tahukah engkau dibalik semua ini, ada kemuliaan dihadapan Alloh untukmu yang melakukan perintah-Nya?

Wanita, inilah ujian untukmu…bila engaku mampu meraih dan melewatinya, surga akan terbentang luas dihadapanmu…

samarinda, medio januari 2009 teruntuk seorang wanita sholehah perindu surga…aku melihatnya terkahir, dan setelah ini aku tidak pernah bertemu dengannya lagi,,

Hidup begitulah adanya

Mengingat ramadhan yang sudah-sudah, seakan-akan mengingatkanku kembali tentang sebuah potret kehidupan yang memang sering terjadi ditengah-tengah himpitan hidup masyarakat.

Awal ramadhan 1428 H, sore itu kami berencana untuk mengikuti ifthor di rumah salah seorang teman. Rumahnya berada di selatan kota Sengata, apabila kita ingin kesana, kita melewati perahu kecil yang bisa memuat motor dan pengemudinya. Masyarakat Sangata menyebutnya ponton.

Ba’da magrib, aku dan beberapa teman beserta ibunya teman berencana mengikuti shalat tarawih di sebuah sekolah kecil didaerah Sangata Sebrang. Kebetulan ibunya adalah kepala sekolah disana, jadi murid-muridnya diwajibkan untuk shalat tarawih disana. Ba’da tarawih, hujan deras mengguyur kota Sengata dan sekitarnya. Jadi kami memilih untuk menunggu hujan reda di dalam masjid beserta beberapa jama’ah. Sambil menunggu kami bercerita satu dengan yang lain, di iringi lari-lari anak-anak SD yang juga sedang menunggu hujan reda. “itu semua anak panti mbak,..”kata ibunya temanku. “oh ya, mereka ditampung disana bu?”. “ya, kebetulan Pak Tomo itu yang mengurus mereka, sama istrinya tuh mbak ngasuh anak-anak yatim sudah kayak anak sendiri,…”jelas ibu itu lagi. Subhanalloh ya, gumamku. “nah, kalau yang itu,…”kata ibu itu seraya menunjuk seorang anak lelaki kecil berbaju cokelat dan berpeci bulat. “namanya upik mbak. dia anak panti baru 3 bulan disini. Dia juga sekolah disini, sekarang kelas 3. Kemarin putus sekolah. Tapi di ambil pak Tomo dan disekolahkan lagi. Ibunya di antasari, dia punya sodara 2 orang, bapaknya sudah meninggal, ibunya kerja di ladang orang, adiknya yang paling kecil masih 10 bulan, kalau ibunya ke ladang adiknya di titipkan ke tetangga. Masuk panti 3 bulan yang lalu. Dulu anaknya nakal mbak, liar banget. Pertama kali masuk panti, suka mukul anak-anak disini, tiap ada yang nangis yang diganggu dia. Tapi Subhanalloh mbak, setelah dididik pak Tomo, sekarang anak itu sudah santun dan pintar, waktu pulang ke rumah ibunya kemarin tetangga-tetangganya pada nangis si upik sudah berubah…”terang ibu tadi. Ibu itu memanggil Upik, “bu hujan ini diciptakan oleh malaikat isrofil yah?”tanyanya. “loh, hujan itu ciptaan siapa?”tanya ibu tadi. “Alloh,..”jawabnya lantang. “kalau gitu malaikat ciptaan siapa?”, “Alloh”, “yang menciptakan hujan itu Alloh, malaikat itu adalah pelaksana perintah Alloh, jadi malaikat yang menurunkan hujan siapa?”Upik menepuk kepalanya sambil tertawa. “ya bu,..lupa”

Upik kembali bermain bersama teman-temannya. Senda tawa antara Upik dan teman-temannya menghiasi relung hati setiap insan yang mendengar suara-suara khas anak-anak. Ya, tawa yang seharusnya mereka miliki. Mereka tidak pernah tau apa dan bagaimana nasib mereka kelak berada dipanti asuhan. Yang mereka tau mereka punya teman sebaya, yang senasib. Mereka tidak pernah tau, yang membedakan mereka dengan anak-anak diluar sana adalah status mereka sebagai anak panti. Ketika mereka keluar panti, mereka disebut anak panti. Gelar yang tidak pernah mereka minta sebelum mereka lahir.

Jauh di pedalaman kota Sangata, ada sebuah panti asuhan yang atapnya selalu bocor kalau hujan deras, yang mereka berjumlah 20 orang hanya dididik oleh sepasang suami istri. Sementara jauh di tengah kota, terdapat kehidupan hiruk pikuk orang kota dengan segala kesibukannya. Mereka tidak pernah tau, bahwa di seberang sana ada sebutan anak-anak panti yang bakal anak-anak itu bawa hingga mereka besar kelak.

Mungkin bukan hanya mereka. Masih banyak upik-upik lain di penjuru dunia ini ditunjukkan Alloh di depan mata kita, untuk mengetuk hati kita sedikit saja. Apa kita masih peduli dengan kehidupan mereka, apa kita masih sayang dengan harta kita sehingga melupakan mereka yang bergelar anak panti?

Mereka hanya perlu sedikit saja, kasih sayang dan bantuan hidup yang ingin mereka juga rasakan seperti anak-anak lain yang bergelar anak mama, yang ditakdirkan untuk bersama-sama orang tuanya, mendidik dan mengasuh mereka sampai mereka bisa mandiri.

Yah hidup begitulah adanya. Kita tidak bisa memilih bagaimana nasib kita ketika hari beranjak dewasa. Besok adalah bayang-bayang semu dan impian yang mungkin akan terwujud atau tidak, hari ini adalah hasil dari impian kemarin. Tapi tetap kita tidak bisa memilih dari apa yang sudah dihamparkan Alloh dihadapkan kita,…

Mungkin upik-upik itu tidak pernah membayangkan akan mendapat gelar anak panti ketika ruh ditiupkan ke dalam raga,…tapi mereka tetap tertawa untuk menerima semua apa adanya, menerima semua hingga ruh mereka kembali kepada sang Pencipta.

Begitulah Jodoh Kita

Jodoh

Jodoh

Aku menyebut dia Inang Joko, aku kenal kira-kira 9 tahun yang lalu. Ketika kami sama-sama aktif menjadi komunitas partai mahasiswa di kampusku di Jogja. Kebetulan saat itu statusku masih Maba (Mahasiswa Baru) dan saat itu juga bertepatan dengan pemilihan Presiden Mahasiswa di kalangan elite politik kampus. Dan seperti sebuah negara, kami juga mendirikan partai yang mengusung calon presiden dari kalangan partai kami. Dan kebetulan aku menjabat sebagai sekretaris-nya

Inang Joko. Anaknya supel, dan terbilang gaul, mungkin begitu ciri khas anak-anak Fisip. Setelah berlalu pemilihan presiden mahasiswa, kami tetap berteman meski tidak seakrab dulu. Karena kampus kami berbeda, aku di Kampus Terpadu Condong Catur Ring Road Utara dan dia di Kawasan Babarsari. Selain itu juga kost kami sudah berjauhan, sewaktu dia masih kost di daerah Seturan, aku masih sering bertemu dia di rumah makan dekat kostku.
Baca Selengkapnya »

Usia 40

Umur 40 tahun

Umur 40 tahun

Berapa usia anda? Ada apa dengan usia 40 ?

Aku ingat beberapa waktu lalu. Aku dan temanku makan malam di warung bakso di seputaran Kawasan Teluk Lingga. Pengunjung di sana datang dan pergi, maklum warung bakso ini tergolong enak dan laris sekali di Kota Sengata. Kalau sore banyak pegawai-pegawai pemerintah yang bersantap setelah pulang kerja, dan apabila malam hari banyak karyawan perusahaan-perusahaan yang bersantap sepulang kerja di sini.

Dan kebetulan malam itu, aku dan temanku baru selesai dari rapat besar untuk agenda even olah raga di Sangata. Seketika kami didekati oleh teman kerjaku yang kebetulan malam itu juga bersama adiknya baru selesai menikmati sajian bakso Teluk Lingga.

“Makan malam nih Rin,..” sapanya. Aku hanya tersenyum.

“Oia, aku punya hajat Rin, mungkin tahun depan aku sudah 40 tahun, aku mau pakai jilbab,” serunya.

“Kenapa gak sekarang aja?” tanyaku.

“Belum, sekarang puas-puasin diri dulu. Habis itu baru jadi alim…,” sahutnya.

Baca Selengkapnya »

Ketika Kehidupan Tlah Berakhir

Umur manusia itu bagaikan air di dalam gelas. Ketika diminum, akan semakin berkurang isinya. Dan akan semakin jelas bagaimana rasanya air tersebut. Begitulah umur dan kehidupan saling melengkapi. Ketika air sudah berkurang kita minum, begitupula umur kita, semakin jauh kita melangkah semakin berkurang pula umur yang ada didalam diri kita. Ketika kita minum, kita akan tau seperti apa rasa air tersebut. Dan kehidupan, ketika kita jalani, kita akan semakin mengerti bagaimana warna-warna kehidupan ini.

Soeharto dari Masa ke Masa

Soeharto dari Masa ke Masa

Semua pasti sudah menonton dan bahkan turut berduka ketika mantan Presiden RI ke-2, Bapak Soeharto telah wafat dalam usia 87 tahun. Bahkan mungkin semua sudah mengetahui bagaimana beliau mengalami sakaratul maut, dengan alat-alat kedokteran yang super canggih, yang katanya bisa membuat manusia bertahan hidup. Tapi apa ada kekuatan di dunia ini bisa mengalahkan kekuatan Allah?

Tidak ada yang pernah tau bagaimana kematian itu menghampiri kita, kapan akan tiba, dengan siapa saat kita menghadapi kematian kita. Aku cukup terhenyak, ketika mendengar ceplosan temanku. Manusia itu sudah menggali kuburnya sendiri, menyiapkan kuburnya sendiri, tapi kok manusia itu lupa nyiapin bekal untuk dia berada di dalam kuburnya nanti ya…

Baca Selengkapnya »

Mendapatkan Dari Yang Tersisa

Cadar

Cadar

Sungguh hidayah itu datang tidak pernah disangka, hidayah datang kepada kita tidak peduli pada saat itu kita siap atau tidak,… Aku baru menyadari suatu kebesaran Allah yang melintas di hatiku walaupun itu hanya melalui ’sedetik’ pertemuan,…

Namanya At-Tin, artinya buah Tin. Aku kenal dia 4 tahun yang lalu. Waktu itu kami sama-sama bekerja di perusahaan batu bara di tengah belantara hutan Kalimantan. Hidup di tengah-tengah hutan dan bekerja dengan mayoritas kaum adam, kami berteman akrab.

Banyak suka duka yang sering aku kerjakan bersama dia, karena kami memiliki selera yang sama, dari pakaian, musik ataupun senang menonton film-film drama komedi. Kami sama-sama menyukai lagu-lagu ‘Glen Fredly’, dan sering memajang foto vokalis ‘Ada Band’ di dompet kami. Pernah suatu hari kami bercanda kalau di antara kami ada yang menikah, kami berdua akan mengenakan jilbab besar sebagai hadiahnya…

Baca Selengkapnya »

Tulisan Tanpa Judul

Aku terjaga dari tidurku, aku baru sadar kertas yang semalam aku baca berhamburan di sampingku. Ada sekelumit galau di dalam jiwa ini, membaca rangkaian ‘hati’ yang sudah aku ciptakan untuk diriku sendiri. Mungkin hari ini aku berada disini, bersama rangkaian hidup yang sudah diatur. Aku baru sadar, kemarin, kemarin lagi dan lagi aku belum pernah menghitung sudah berapa kemarin yang aku lalui.

Aku baru sadar ternyata hidup ini sudah hampir mencapai angka 26 dalam hitungan tahun, aku makin mendesis membayangkan, semakin dekat aku dengan kontrak hidupku, semakin jauh aku dengan bayi-bayi yang baru lahir, semakin dekat aku dengan tanggung jawabku.

Untuk hari ini, aku akan menyisihkan sedikit waktu, aku ingin mengerti mengapa hidup yang dulu aku jalani, kemarin, dan hari ini ternyata berdampak dan menggantikan semua kenangan saat ini. Eh, ya kenangan. Apa itu kenangan? Yang aku mengerti semua yang sudah aku lalui adalah lembaran di dalam setiap electronic diary-ku. Semua sudah tercipta dan aku telah melewatinya, entah sukses atau aku harus menangis, yang pasti aku telah melaluinya.

Baca Selengkapnya »

Untuk Apa Aku Mengeluh

Capek deh!

Capek deh!

“Capeeek,..” seruku seketika.

“lin, aku gak bisa lembur sampai sore deh, jam 4 aku kudu ngisi Liqo, ba’da magrib aku ngajar bahasa Inggris anak-anak, habis itu aku kursus bahasa Arab, kapan istirahatnya,” keluhku.

Bayangkan kami harus SKS (Sistem Kebut Seminggu) menyelesaikan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) yang sudah harus masuk ke Dewan 1 hari sebelum tahun berganti. Dan setelah itu kami harus menyelesaikan realisasi akhir tahun dengan rancangan program anggaran tahun depan,.. dan itu yang mengerjakan hanya 3 orang dari bidang kami.

“Ibu saya capek sekali,” keluhku pada Bu Nur, murobbiku.

Baca Selengkapnya »

Kebahagiaan Itu Ada di Dasar Hati

Mungkin bukan rahasia umum lagi, kalau Sengata itu kota yang paling susah air. Bisa-bisa air itu baru mengalir seminggu sekali, dan itu digilir dari daerah ke daerah. Dan itu pula yang ku alami selama tinggal di sana.

Aku adalah anak kost, kebetulan kostku gabung antara laki-laki dan perempuan. Susah mencari kost yang khusus untuk perempuan di sini, karena mayoritas para pekerja yang hanya butuh tempat tidur saja apabila malam hari. Tapi kostku walaupun campur, khusus wanita berada di loteng atas, dan laki-laki di kamar-kamar bawah. Tapi kami jarang bercampur ataupun ngobrol seenaknya saja, karena waktu untuk bertemu minim sekali.

Di kostku mayoritas para pekerja, ada di pemerintahan, bank dan swasta. Di kamar atas hanya 2 kamar yang dihuni aku dan temanku. Di kamar bawah dihuni oleh beberapa kamar yang kesemuanya laki-laki, dan ada satu kamar yang dihuni oleh orang yang sudah berkeluarga. Mereka memiliki 1 anak yang berumur 3 tahun.

Baca Selengkapnya »

« Previous entries