Mengingat ramadhan yang sudah-sudah, seakan-akan mengingatkanku kembali tentang sebuah potret kehidupan yang memang sering terjadi ditengah-tengah himpitan hidup masyarakat.
Awal ramadhan 1428 H, sore itu kami berencana untuk mengikuti ifthor di rumah salah seorang teman. Rumahnya berada di selatan kota Sengata, apabila kita ingin kesana, kita melewati perahu kecil yang bisa memuat motor dan pengemudinya. Masyarakat Sangata menyebutnya ponton.
Ba’da magrib, aku dan beberapa teman beserta ibunya teman berencana mengikuti shalat tarawih di sebuah sekolah kecil didaerah Sangata Sebrang. Kebetulan ibunya adalah kepala sekolah disana, jadi murid-muridnya diwajibkan untuk shalat tarawih disana. Ba’da tarawih, hujan deras mengguyur kota Sengata dan sekitarnya. Jadi kami memilih untuk menunggu hujan reda di dalam masjid beserta beberapa jama’ah. Sambil menunggu kami bercerita satu dengan yang lain, di iringi lari-lari anak-anak SD yang juga sedang menunggu hujan reda. “itu semua anak panti mbak,..”kata ibunya temanku. “oh ya, mereka ditampung disana bu?”. “ya, kebetulan Pak Tomo itu yang mengurus mereka, sama istrinya tuh mbak ngasuh anak-anak yatim sudah kayak anak sendiri,…”jelas ibu itu lagi. Subhanalloh ya, gumamku. “nah, kalau yang itu,…”kata ibu itu seraya menunjuk seorang anak lelaki kecil berbaju cokelat dan berpeci bulat. “namanya upik mbak. dia anak panti baru 3 bulan disini. Dia juga sekolah disini, sekarang kelas 3. Kemarin putus sekolah. Tapi di ambil pak Tomo dan disekolahkan lagi. Ibunya di antasari, dia punya sodara 2 orang, bapaknya sudah meninggal, ibunya kerja di ladang orang, adiknya yang paling kecil masih 10 bulan, kalau ibunya ke ladang adiknya di titipkan ke tetangga. Masuk panti 3 bulan yang lalu. Dulu anaknya nakal mbak, liar banget. Pertama kali masuk panti, suka mukul anak-anak disini, tiap ada yang nangis yang diganggu dia. Tapi Subhanalloh mbak, setelah dididik pak Tomo, sekarang anak itu sudah santun dan pintar, waktu pulang ke rumah ibunya kemarin tetangga-tetangganya pada nangis si upik sudah berubah…”terang ibu tadi. Ibu itu memanggil Upik, “bu hujan ini diciptakan oleh malaikat isrofil yah?”tanyanya. “loh, hujan itu ciptaan siapa?”tanya ibu tadi. “Alloh,..”jawabnya lantang. “kalau gitu malaikat ciptaan siapa?”, “Alloh”, “yang menciptakan hujan itu Alloh, malaikat itu adalah pelaksana perintah Alloh, jadi malaikat yang menurunkan hujan siapa?”Upik menepuk kepalanya sambil tertawa. “ya bu,..lupa”
Upik kembali bermain bersama teman-temannya. Senda tawa antara Upik dan teman-temannya menghiasi relung hati setiap insan yang mendengar suara-suara khas anak-anak. Ya, tawa yang seharusnya mereka miliki. Mereka tidak pernah tau apa dan bagaimana nasib mereka kelak berada dipanti asuhan. Yang mereka tau mereka punya teman sebaya, yang senasib. Mereka tidak pernah tau, yang membedakan mereka dengan anak-anak diluar sana adalah status mereka sebagai anak panti. Ketika mereka keluar panti, mereka disebut anak panti. Gelar yang tidak pernah mereka minta sebelum mereka lahir.
Jauh di pedalaman kota Sangata, ada sebuah panti asuhan yang atapnya selalu bocor kalau hujan deras, yang mereka berjumlah 20 orang hanya dididik oleh sepasang suami istri. Sementara jauh di tengah kota, terdapat kehidupan hiruk pikuk orang kota dengan segala kesibukannya. Mereka tidak pernah tau, bahwa di seberang sana ada sebutan anak-anak panti yang bakal anak-anak itu bawa hingga mereka besar kelak.
Mungkin bukan hanya mereka. Masih banyak upik-upik lain di penjuru dunia ini ditunjukkan Alloh di depan mata kita, untuk mengetuk hati kita sedikit saja. Apa kita masih peduli dengan kehidupan mereka, apa kita masih sayang dengan harta kita sehingga melupakan mereka yang bergelar anak panti?
Mereka hanya perlu sedikit saja, kasih sayang dan bantuan hidup yang ingin mereka juga rasakan seperti anak-anak lain yang bergelar anak mama, yang ditakdirkan untuk bersama-sama orang tuanya, mendidik dan mengasuh mereka sampai mereka bisa mandiri.
Yah hidup begitulah adanya. Kita tidak bisa memilih bagaimana nasib kita ketika hari beranjak dewasa. Besok adalah bayang-bayang semu dan impian yang mungkin akan terwujud atau tidak, hari ini adalah hasil dari impian kemarin. Tapi tetap kita tidak bisa memilih dari apa yang sudah dihamparkan Alloh dihadapkan kita,…
Mungkin upik-upik itu tidak pernah membayangkan akan mendapat gelar anak panti ketika ruh ditiupkan ke dalam raga,…tapi mereka tetap tertawa untuk menerima semua apa adanya, menerima semua hingga ruh mereka kembali kepada sang Pencipta.
ine septya Said:
on 4 December 2008 at 1:16 pm
Tak ada anak yang lahir tak ingin punya orang tua yang utuh.Sosok orangtua yang merawat dan melindungi mereka dari lahir hingga dewasa. Hati saya juga sangat miris melihat keadaan anak2 panti,kalau kamu ingat rin,dulu kita pernah buka puasa di panti asuhan anak yatim dan cacat,itulah untuk pertama kalinya aku benar2 menangis.Menangis…kenapa selalu menjadi orang yang tak bersyukur.Padahal masih banyak orang2 yang tak seberuntung diriku…
masdar Said:
on 11 February 2009 at 6:17 pm
Assalamualikum,
mohon dikirimkan alamat pantiasuhan di sangata tersebut.
saya baru disangata dan sedang mencari-cari panti asuhan yang memerlukan bantuan.
terimakasih.
Wassalamualaikum,
masdar Said:
on 11 February 2009 at 6:22 pm
email saya masdar_01@yahoo.ca
jazakallahukhoir..