Berapa usia anda? Ada apa dengan usia 40 ?
Aku ingat beberapa waktu lalu. Aku dan temanku makan malam di warung bakso di seputaran Kawasan Teluk Lingga. Pengunjung di sana datang dan pergi, maklum warung bakso ini tergolong enak dan laris sekali di Kota Sengata. Kalau sore banyak pegawai-pegawai pemerintah yang bersantap setelah pulang kerja, dan apabila malam hari banyak karyawan perusahaan-perusahaan yang bersantap sepulang kerja di sini.
Dan kebetulan malam itu, aku dan temanku baru selesai dari rapat besar untuk agenda even olah raga di Sangata. Seketika kami didekati oleh teman kerjaku yang kebetulan malam itu juga bersama adiknya baru selesai menikmati sajian bakso Teluk Lingga.
“Makan malam nih Rin,..” sapanya. Aku hanya tersenyum.
“Oia, aku punya hajat Rin, mungkin tahun depan aku sudah 40 tahun, aku mau pakai jilbab,” serunya.
“Kenapa gak sekarang aja?” tanyaku.
“Belum, sekarang puas-puasin diri dulu. Habis itu baru jadi alim…,” sahutnya.
Tunggu 40 tahun? Berarti setahun lagi, kalau sekarang dia sudah menginjak usia 39 tahun? Mengapa menunggu menjadi‘alim’? Mungkin beragam alasan orang untuk memulai menutup aurat, ada yang menunggu setelah menikah, ada yang menunggu setelah bekerja, ada yang mengenakan jilbab setelah naik haji dan bahkan ada pula yang mentargetkan setelah berusia 40 tahun. Aku sendiri sebelumnya berencana ingin menutup aurat setelah aku menikah, tapi mungkin hidayah itu datang sebelum ‘rencana menikah’ itu datang. Dan akhirnya aku memutuskan menutup aurat terlebih dahulu.
Kembali ke usia 40, aku pernah mendengar perbincangan seorang bapak di kantorku. Dia akan berhenti merokok setelah usia 40 dan akan mulai mendirikan sholat 5 waktu setelah usia 40 karena sholatnya sekarang masih terbilang “bolong-bolong’’, pada saat itu bapak itu baru berusia 38 tahun, berarti 2 tahun lagi baru semua rencana memperbaiki hidup itu terlaksana. Yang aku tanyakan, apakah jaminan jika hidupnya digariskan hingga 40 tahun? Lah, kalau habis berbicara seperti itu ternyata malamnya dia ‘dipanggil’?
Ada beragam orang yang beralasan, sebelum usia 40 tahun, hidup itu dipuas-puasin dulu, setelah itu baru memperbaiki hidup. Menurutku ada yang salah dengan prinsip hidup seperti itu. semakin kita memprediksi kesenangan kita, semakin jauh kita dari kebaikan, semakin menumpuklah dosa kita. Kita? Ya, saya, anda, dia, orang-orang di sekitar kita, semua makhluk yang bernama manusia. Semua kita mempunyai dosa, sekecil apapun.
Rasulullah SAW saja pernah ditegur Allah gara-gara bermuka masam ketika ada seorang yang tua dan miskin datang kepadanya hendak minta di ajarkan tentang ajaran Islam, dan saat itu Rasul lebih mementingkan untuk mengajari kaum petinggi Quraisy. Apalagi kita?
Ada sebuah tayangan tausiyah di televisi swasta, di sana seorang ustadz mempertanyakan kepada pemirsa, adakah diantara pemirsa yang sudah mendapat print out dari Allah untuk masuk ke dalam surga secara cuma-cuma? Jawabnya pasti belum ada. Apalagi yang kita tunggu, jika hari ini kita belum berusia 40 tahun, tetapi takdir Allah mengharuskan kita untuk selesai dengan tugas kita di dunia ini, apa yang harus kita perbuat?

bayhakiramli Said:
on 31 December 2008 at 11:50 am
indahnya kesadaran, meski telat kesadaran seperti ini timbul, tapi yang ini tidak datang dua kali, mengingat umur saya masih muda, smoga selalu bisa berjalan dalam kesadaran-kesadaran. salam kenal.