Aku menyebut dia Inang Joko, aku kenal kira-kira 9 tahun yang lalu. Ketika kami sama-sama aktif menjadi komunitas partai mahasiswa di kampusku di Jogja. Kebetulan saat itu statusku masih Maba (Mahasiswa Baru) dan saat itu juga bertepatan dengan pemilihan Presiden Mahasiswa di kalangan elite politik kampus. Dan seperti sebuah negara, kami juga mendirikan partai yang mengusung calon presiden dari kalangan partai kami. Dan kebetulan aku menjabat sebagai sekretaris-nya
Inang Joko. Anaknya supel, dan terbilang gaul, mungkin begitu ciri khas anak-anak Fisip. Setelah berlalu pemilihan presiden mahasiswa, kami tetap berteman meski tidak seakrab dulu. Karena kampus kami berbeda, aku di Kampus Terpadu Condong Catur Ring Road Utara dan dia di Kawasan Babarsari. Selain itu juga kost kami sudah berjauhan, sewaktu dia masih kost di daerah Seturan, aku masih sering bertemu dia di rumah makan dekat kostku.
Bulan maret tepat tahun 2007 yang lalu, dia mengirimkan sms yang mengumumkan bahwa dia akan menikah dengan Risma, teman kami yang juga sama-sama aktivis di komunitas Gejayan.
“Doakan kami, insya Allah bulan Juni saya dan Risma akan melangsungkan pernikahan di Salatiga, Joko Martono Nasution dengan Risma Aryanti.” Begitulah bunyi sms yang dikirimkannya ke aku. Sms itu masih aku simpan hingga hari ini.
Beberapa hari yang lalu, ketika libur panjang 4 hari. Kami sekeluarga pergunakan untuk berkunjung ke Bali. Dan sore itu, suasana di daerah Legian begitu ramai. Aku dan keluargaku berjalan kaki mengitari sepanjang Kuta hingga ke jalan Popshi II dan tembus ke daerah Legian. Tepat di depan tugu Bom Bali, seketika aku bertemu dengan sosok yang aku kenal, mungkin terakhir aku ketemu 1 tahun yang lalu.
“Inang Joko…,” teriakku.
Dia bersama istri dan anaknya. Seorang wanita berkulit putih dan mengenakan jilbab panjang, menggendong anak kira-kira berumur 3 bulan. Aku hanya tertegun, istrinya bukan Risma. Bukankah dia bilang kalau akan menikah dengan Risma?
“Kenalin ini istriku, Evi…” aku hanya melongo.
“Kamu lagi liburan ya?” tanyanya.
“Iya,” jawabku seolah tidak percaya dengan yang aku lihat.
“Aku sekarang tinggal di Denpasar, kebetulan istriku orang Denpasar. Tapi orang tuanya dari Jawa.”
Evi tersenyum padaku. Aku membalasnya. Setelah istrinya pamitan untuk melihat barang di toko kain terdekat, aku langsung menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan.
“Inang, katanya kemarin mau nikah sama mbak Risma 3 bulan lagi,” bisikku. Dia terseyum.
“Masa kamu lupa, kan kamu pernah bilang ke aku, walaupun sehari, kalau Allah mengatakan dia bukan jodoh kita, dan itu tidak akan pernah terjadi, masa mau dipaksakan,…” selorohnya.
Aku hanya menggerutu. Mungkin enak benar dia bilang seperti itu. Bagaimana perasaan Mbak Risma?
“Yah, begitulah jodoh kita dek, takkan lari jodoh dikejar, biar kita mengejar sampai kemana juga kalau bukan dia yang digariskan tidak akan pernah terjadi kan…,” ucapnya.
Sepulang dari Kuta menuju Denpasar, aku terus kepikiran. Ya, mungkin dia benar. Meskipun kita berharap dan mentargetkan sesuatu, tapi kalau kehendak-Nya lain, pasti itu tidak akan pernah terjadi. Dulu sewaktu masih aktif di partai mahasiswa aku pernah bilang ke Inang Joko, meskipun sehari kita merencanakan pernikahan, tetapi kalau bukan dia yang dipilih-Nya untuk mendampingi kita, pasti itu tidak akan pernah terjadi. Dan hari ini hal itu aku lihat sendiri dari kenyataan yang ada.
Mungkin masih banyak Inang – inang Joko di muka bumi ini, yang sudah merencanakan untuk melengkapi dien, ternyata Allah Maha Pengatur berkata lain. Ya, mungkin juga dia bukan yang terbaik untuk Risma, begitu juga sebaliknya. Bukankah Allah Yang Maha Tahu segalanya?
“Begitulah jodoh kita,” kata-kata Inang Joko selalu terngiang di telingaku hingga pesawat kami meluncur kembali ke Balikpapan. Kalau dipikir, aneh juga yang namanya jodoh. Kita tidak pernah tahu kemana kaki melangkah dan kita menemukan seseorang untuk menemani hidup kita. Ada temanku yang jauh-jauh dari Kuala Lumpur untuk bekerja di Kalimantan, ternyata menikah dengan orang Kalimantan. Sungguh jodoh tidak pernah diduga.
Bukan salah Inang Joko, bila tidak jadi menikah dengan Risma, tapi memang garis takdir berkata seperti itu. dia tidak pernah membayangkan untuk bisa tinggal di Denpasar, dan menikah dengan wanita di Denpasar. Tapi memang seperti itulah yang sudah digariskan untuknya,…ya, kita hanya menjalani, masalah baik buruk itu semua sudah diaturkan. Kita hanya bisa menerima semua dengan lapang dada, karena itulah yang terbaik untuk kita,….
Dan pesawat kami mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan, setelah melalui perjalanan 1, 5 jam, dari Denpasar melalui Makasar dan akhirnya tiba juga di Balikpapan. Ya, mungkin ini juga ‘garis’ untukku, aku harus belajar untuk mengerti sesuatu setelah apa yang sudah aku lewati,… Aku harus belajar dari apa yang aku lihat kemarin. Aku bisa belajar dari Inang Joko dan dari Inang – inang yang lain, kalau hidup itu tidak harus ngoyo mentargetkan sesuatu.
Dari sebuah film, aku mengutip kata-kata indah dari sana.
Jalani hidup itu baik buruknya, bila itu baik berarti memang jatah kita, dan bila itu buruk kita tidak bisa menghindarinya. Jalani hidup itu dan tidak perlu direncanakan apa yang akan dilakukan besok, karena Tuhan sudah mengaturkan untuk kita dan dengan begitu kita akan mendapatkan kejutan-kejutan indah setiap harinya.
Bukankah pelajaran di masyarakat itu gratis ?

DP Said:
on 29 October 2008 at 1:28 am
tak selamanya yang kita inginkan
bisa kita dapatkan
pun tak selamanya yang kita benci
bisa kita tolak
– hidup adalah menerima hal-hal seperti itu….!
Imutt Said:
on 30 December 2008 at 8:12 am
Subhanalloh… Tiada kebergantungan diri kecuali kepada alloh.Karena dialah pemilik mulkiah langit dan bumi.Manusia dan jin hanyalah para budak yang tidak berkuasa atas rencana alloh.Yaa..Rabb,malik,ilah jdknlh diri ini snantiasa bersomadiah kepada-mu,bknlh kepada makhluk yg entah 1thn,1bulan,1minggu,1hari,1jam,1menit,1detik lagi fana.
waChyu Said:
on 7 January 2009 at 8:38 pm
ada ada aj nih orang.. .
Syamsul Arifin Said:
on 10 January 2009 at 11:12 pm
hummmm…., begitu ya
ya, semoga mendapat yang terbaik, bagi kehidupan dunia-akhirat (amin) ^_^
Diya Said:
on 13 January 2009 at 12:09 pm
Laa hawla wa laa quwwata illa biLlah..
manusia hanya berencana..
davinsmom Said:
on 28 January 2009 at 3:31 pm
ak jg prnh mengalaminya..
rinidiana Said:
on 28 January 2009 at 6:46 pm
ya, mati hidup dan semua yang sudah digariskan oleh-Nya tidak boleh kita tentang. semua terbaik buat kita. semoga kita semua menjadi org yang selalu bersyukur, bukan kufur akan nikmat-Nya,,