Allah telah mengajarkan kepada umat manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya, melalui para utusan-Nya. Allah mengajarkan kita untuk selalu bertauhid dan meng-Esa kan-Nya. Apapun bentuknya, segala yang kita jalani di muka bumi ini sudah digariskan-Nya dalam takdir kita masing-masing dan kita harus percaya dengan apa yang ditakdirkan itu.
Mempunyai anak yang masih lajang, bagi orang tua adalah kekhawatiran yang besar. Aku pernah mengalami sebuah kisah yang membuatku ingin tersenyum sendiri, bagaimana mungkin jodoh seorang manusia bisa ditutup oleh perbuatan manusia.
Di masyarakat sering mempercayai adanya mandi-mandi untuk kaum lajang yang belum menemukan jodohnya. Kepercayaan ini terus dilakukan dari suatu masyarakat ke masyarakat yang lain. Pernah suatu ketika, nenekku menawarkan mandi untukku. Dengan alasan hingga usia ¼ abad ini aku belum menemukan pendamping hidup.
’’Mungkin kamu itu ditutup orang, atau mungkin ada yang gak senang dengan kamu. Sini biar nenek mandikan, jadi semua yang dikirim orang ke kamu bisa terbuang dan kamu bisa cepat dapat jodoh,” begitu alasan nenekku ketika aku menanyakan untuk apa acara mandi-mandi itu.
Aku hanya bisa kaget dan bingung. Apa mungkin, orang belum menemukan pendamping hidupnya itu jodohnya ditutup? Bagaimana bisa, bukankah Allah yang menentukan kapan dan bagaimana cara kita menemukan seseorang yang terbaik untuk menjadi pendamping hidup?
Bukankah semua itu sudah digariskan-Nya? Kita hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Allah, kita hanya bisa meminta yang terbaik serta bersabar atas ketetapan-Nya. Dia-lah yang menentukan apa dan bagaimana kita nanti.
“Bukan saya itu melebihi Tuhan mbak, tapi kalau tidak dimandikan mbak gak bakal nikah hingga usia tua,” begitu alasan seorang ibu yang diyakini masyarakat sekitarku sebagai orang ‘pintar’ yang mampu mengobati pasien dengan berbagai macam keluhan. Selain itu dia dipercaya masyarakat sekitar bisa meramal dan melihat hal yang ghoib.
“Buang sial mbak, nanti saya bacakan doa-doanya, karena kayaknya ada orang yang menutup jodoh mbak…,” begitu alasan sang “dukun” yang bergelar “hajjah” ini.
Aku sungguh geli, pembaca doa terbaik untuk seseorang adalah dirinya sendiri, dan untuk apa buang sial. Semua musibah baik atau buruk seseorang itu bukankah sudah ditetapkan untuk kita, kita tinggal menjalani dan menerima yang sudah digariskan kepada kita.
Terlebih lagi, tau apa dia tentang jodoh seseorang, walaupun ada 1000 dukun yang menutup jodoh seseorang, tapi jika Sang Pemilik dan Pengatur jodoh berkata lain, aku yakin pasti orang tersebut akan tetap berjodoh, tidak ada yang mampu menutup dan melawan kekuatan-Nya. Dia Yang Maha Kuat dan Maha dari segalanya. Bukankah para dukun yang berkedok “haji” itu juga adalah ciptaan-Nya ? Bisa apa mereka bila Yang Menciptakannya berkata lain ?
Aku sering mendengar orang-orang yang melakukan ritual, misalnya membuang koin di jalan raya tepat jam 12 malam untuk membuang sial. Astagfirullah,.. Apakah manusia sadar siapa yang menciptakan dia? Siapa yang menyediakan segala kenikmatan untuknya? Siapa yang mengajarkannya untuk bisa bertahan hidup? Siapa yang menggariskan baik-buruk kejadian itu kepadanya?
Kalau manusia yakin dan percaya bahwa hanya satu tempat penciptaan dan penghambaan hanya kepada-Nya, mungkin manusia tidak akan melakukan pencarian terhadap sesuatu yang membuat mereka menjadi menyekutukan Allah.
Sekarang banyak sekali hal-hal yang membuat batalnya syahadat kita kepada-Nya. Banyak orang-orang yang mengaku haji, menjual ayat-ayat Allah hanya untuk menyelewengkan manusia dari ketidakyakinannya kepada Sang Pencipta. Memang sekarang bukan jaman berhala, Islam sudah datang, semua percaya bahwa hanya satu Tuhan, semua percaya hanya kepada Allah kita menyembah.
Tapi manusia lupa bahwa hal-hal kecil yang dipercayainya di kehidupan sehari-hari itu adalah pembatal dua kalimat syahadat yang sering dibacakannya ketika melakukan sholat. Misalnya apabila kita berbicara kemudian terdengar suara cicak, kemudian kita berkata bahwa cicak tadi membetulkan omongan kita. Hanya seekor cicak kita percaya dan yakin bahwa apa yang kita bicarakan itu benar adanya ?
Yang lebih menyedihkan, banyaknya ramalan-ramalan bintang yang dikenal dengan astrologi untuk kaum muda terutama di majalah-majalah, televisi dan semua yang berbau publikasi. Bahkan rating SMS untuk mendaftar ramalan lebih tinggi dibanding SMS untuk mendaftar Al Quran seluler.
Juga banyak sekali kita temukan, orang yang rajin beribadah tapi rajin pula dia mendatangi dukun-dukun yang berkedok “haji”. Mereka tidak pernah sadar, satu keyakinan terhadap hal-hal yang mistik akan membuat batalnya amal kebaikan mereka.
Ada hadist yang mengatakan bahwa apabila seorang muslim datang kepada tukang ramal dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka segala amal dan ibadah yang dia lakukan tidak akan diterima selama 40 malam… Subhanallah.
Allah Maha Penggenggam Jiwa, manusia hanya bisa berpasrah terhadap apa yang menimpa hidupnya, manusia hanya bisa rela dan ikhlas apapun yang telah digariskan oleh Tuhannya, manusia hanya bisa meminta yang terbaik dari apa yang sudah dijalankannya. Baik dan buruk ataupun bencana yang menimpa manusia itu adalah garis yang sudah dibukukan dalam kitab Lauh Mahfudz. Setiap detik kehidupan kita ini sudah di takdirkan, sudah di percayakan kepada kita. Dan semua yag kita jalani ini adalah ujian dari-Nya untuk menaikkan derajat kita sebagai hamba-Nya.

yudi Said:
on 9 October 2008 at 9:31 pm
yaah begitulah Indonesia, Negeri yg penduduknya mayoritas muslim yg mempercayai Tuhan yg satu Allah swt, tetapi anehnya nggak bisa melepaskan tradisi animisme, kayak mandi** lah, mengarak kerbau keliling kota lah, berebut sesaji lah de el el deh. Ya Allah, Ya Allah sadarkan kami nih ….!!!!! AAAAmiiiinnnnn
Dee_N Said:
on 10 October 2008 at 1:11 pm
Dee stuju bgt dengan artikel mb rini, skrg ini byk sekali orang2 yg berdatangan ke Orang yg punya elmu, mb rini bilang “haji” ini. dengan dasar karena mungkin dia lebih dekat dengan Sang Khalik, mungkin doá lewat dia lebih manjur dan bisa melihat atau meramal masa depan.
Yang harus d ingat memang, kata mb rini tadi. smua nasib dan takdir seseorang tidak akan bisa d lihat oleh orang lain. Hanya Allah SWT yg maha tau.
IA. mudah2an anak cucu dan generasi yg akan datang akan lebih baik.
Aminnn
rickyrahadian Said:
on 12 October 2008 at 11:53 am
Kepercayaan-kepercayaan Ngacho kayak gitu, kalo ditanya kenapa melakukannya, pasti jawabannya karena TRADISI, itu yang dilakukan para leluhur-leluhur jaman dulu. Apa bedanya ya? sama masyarakat jahiliyah dulu?
Jawaban mereka sama kan pas ditanya kenapa menyembah berhala? yaitu karena orangtua-orangtua mereka juga melakukannya..
Bukannya anti-Tradisi, tapi seharusnya tradisi-tradisi yang melanggar Laa ilaha ilallah, Muhammad Rasulullah laa Nabiiya ba’da, dan yang mengandung kemubadziran, mulai ditinggalkan..
ema Said:
on 1 November 2008 at 1:31 am
ya aku jg setuju dgn pendapat mbk rini tp aku perna baca bhw selain kita berdoa kita juga harus berusaha biar apa yg kita panjatkan itu bisa terkabul……amin