Umur manusia itu bagaikan air di dalam gelas. Ketika diminum, akan semakin berkurang isinya. Dan akan semakin jelas bagaimana rasanya air tersebut. Begitulah umur dan kehidupan saling melengkapi. Ketika air sudah berkurang kita minum, begitupula umur kita, semakin jauh kita melangkah semakin berkurang pula umur yang ada didalam diri kita. Ketika kita minum, kita akan tau seperti apa rasa air tersebut. Dan kehidupan, ketika kita jalani, kita akan semakin mengerti bagaimana warna-warna kehidupan ini.
Semua pasti sudah menonton dan bahkan turut berduka ketika mantan Presiden RI ke-2, Bapak Soeharto telah wafat dalam usia 87 tahun. Bahkan mungkin semua sudah mengetahui bagaimana beliau mengalami sakaratul maut, dengan alat-alat kedokteran yang super canggih, yang katanya bisa membuat manusia bertahan hidup. Tapi apa ada kekuatan di dunia ini bisa mengalahkan kekuatan Allah?
Tidak ada yang pernah tau bagaimana kematian itu menghampiri kita, kapan akan tiba, dengan siapa saat kita menghadapi kematian kita. Aku cukup terhenyak, ketika mendengar ceplosan temanku. Manusia itu sudah menggali kuburnya sendiri, menyiapkan kuburnya sendiri, tapi kok manusia itu lupa nyiapin bekal untuk dia berada di dalam kuburnya nanti ya…
Ungkapan itu dia lontarkan ketika menonton prosesi pemakaman Soeharto. Semua sudah tau, keluarga cendana sudah mempersiapkan kuburan untuk mereka sekeluarga di kawasan elit Astana Giribangun, Solo. Mungkin untuk ukuran pemakaman itu masuk klasifikasi kawasan elit, berbeda dengan pemakaman pada umumnya. Yang mungkin baru akan digali kalau dipesan sejam yang lalu.
Mengingat pemakaman, pasti mengingat kematian. Kematian itu datang untuk siapa saja, saya, anda, teman anda, orang-orang yang kita sayangi dan semua makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kita tidak bisa menghindari. Kematian tidak dapat diundur ataupun dimajukan barang sedetikpun.
Meskipun seperti nafas bantuan dengan menggunakan alat-alat yang disematkan ke tubuh pak Harto, tapi tetap saja kematian akan menghampiri beliau. Orang besar juga bisa mati,…begitu ungkapan orang-orang di sekitar kita. Di hadapan Alloh, tidak ada orang besar, orang kecil, orang jelek, orang cantik, orang kaya atau miskin, semua sama, semua harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan Allah.
Pernahkah kita berfikir, ketika malam ini kita tertidur nyenyak di tempat tidur kita, dan ternyata esok malam, kita tertidur di tempat yang berbeda. Di tempat yang gelap, sepi, sempit dan hanya jeritan binatang-binatang kecil yang menemani. Pernahkah terbayangkan, bagaimana bila nyawa ini diambil, kemudian apa yang akan kita lakukan. Apa yang kita lihat setelah di alam ini. Pernahkah kita berfikir sejauh itu?
Pernahkah kita berpikir, suatu saat kelak entah semenit lagi, sehari lagi bahkan beberapa tahun hinggga puluhan tahun lagi kita akan habis kontrak di dunia ini? Mungkin bagi sebagian orang, ini adalah ‘cerita masa depan’…pernahkah kita bercita-cita untuk cepat ‘dipanggil’?
Saya yakin semua tidak ada yang setuju. Saya ingat, ketika salah satu kerabat saya masuk rumah sakit, kemudian saya mengucap “innalillahi…” dan keluarga saya yang lain langsung menegur, “Dia belum mati, jangan mendoakan, jangan bicara seperti itu.”
Saya hanya tersenyum. Bukankah itu salah satu kalimat dzikir? Meskipun bukan hanya untuk kematian, tapi juga untuk suatu musibah kecil yang terjadi sehari-hari. Dari teguran tadi kita bisa lihat betapa manusia tidak siap menghadapi kematian, betapa manusia ingin berlama-lama hidup di dunia hina ini, betapa manusia tidak ingin bertemu dengan Tuhannya.
Ada sebuah hadist yang bercerita ketika Rasulullah sedang mendekat dengan kematiannya, Fathimah, putri beliau menangis, karena tidak akan dapat bertemu lagi dengan manusia paling mulia di seluruh alam ini. Kemudian sang suri tauladan mengatakan, “Jangan menangis wahai putriku, aku diberitakan oleh malaikat maut, bahwa setelah ini adalah giliranmu menyusulku, dan sang putri mulia itu tersenyum.” Ya, dia sangat menginginkan untuk bertemu denga Tuhannya, Tuhan yang Maha kekal, ketika semua yang ada dialam ini mempunyai umur, hanya Dia yang selalu abadi.*)
Setahun yang lalu, aku kehilangan seorang sahabat, kakak, teman kerja, teman terbaik selama aku bekerja di lokasi. Beliau menderita kanker otak yang 3 bulan terakhir menyerang secara ganas. Salah satu penyebabnya, mungkin karena terlalu lelah, dan dia sebagai surveyor yang mengharuskan selalu di lapangan setiap saat. Selain itu pola makan dan pola istirahat yang kurang baik juga mungkin menjadi pemicu sakitnya.
Sebelum meninggal, beliau sempat meminta maaf yang setulus-tulusnya denganku dan beragam nasehat hidup yang membuat aku mengerti apa tujuan hidup ini, karena katanya kemungkinan tahun depan sudah tidak ada hari raya lagi dan Tuhan tidak akan memberikan kita jatah hidup untuk kedua kalinya.
Aku tidak pernah menyadari, kata-kata itulah sebagai tanda dia telah mendekat dengan kematiannya. Betapa aku kegum dengan kesiapannya menghadapi kematiannya, yang mungkin bagi sebagian orang itu adalah bencana hidup yang harus ditangisi berhari-hari atau mungkin seumur hidup.
Begitulah kematian, setiap saat mengintai dari segala sisi kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana ruh ini diambil, kapan dan pada saat itu kita sedang berada dimana. Semua itu rahasia yang sudah digariskan rapat-rapat untuk kita. Kematian itu bukan hanya milik orang tua, tetapi juga milik bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa dan siapa saja yang bernyawa.
Ada sebuah anekdot dari sekumpulan bapak-bapak yang berusia di atas 50 tahun. Beliau-beliau saling menguatkan satu dengan yang lainnya dan mengatakan bahwa sebentar lagi mereka akan bersiap-siap untuk pensiun dari pekerjaan dan pensiun dari dunia ini. Mungkin bagi kita, kematian itu hanya mereka yang berusia tua saja yang bergiliran menunggu, sehingga bila kita di ajak untuk kembali kepada Allah, kita akan mengatakan nanti kalau sudah berusia 40 tahun… Ya jika kita sampai pada umur sejauh itu, tetapi bila beberapa jam lagi kita dipanggil, apa bekal kita untuk berhadapan dengan Alloh ? Apa bekal kita untuk menjawab di pengadilan Allah nanti…? Semua hanya amal kita yang akan menjawab.
Renungkanlah, bagaimana bila malaikat maut datang menghampiri kita dan mengambil ruh yang ada di raga ini. Kita yang hari ini bisa membaca tulisan ini, mungkin esok hari tidak tahu lagi entah berada di alam mana… dimana kita, dimana amal kita, dimana jawaban kita, dimana engkau wahai manusia,…
Engkau tidak akan pernah tau kapan engkau akan menghadap Rabb mu, kapan engkau akan mengakhiri nafas dan darah yang selalu engkau pompa itu, engkau tidak akan pernah tahu bagaimana hidup sesudah ini, yang engkau tahu dan mengerti hanyalah Tuhanmu memanggilmu dan Dia meminta pertanggungjawabanmu di dunia ini.
*) Cuplikan program tausiyah radio Darusalam, Samarinda
Artikel ditulis pada tanggal 28 Pebruari 2008




Dee_N Said:
on 10 October 2008 at 1:01 pm
good artikel
rini pinter ya… tulisannya bagus2
lam kenal. n silahkan mampir k blog aku..
eh.aku link bole g?
rinidiana Said:
on 11 October 2008 at 9:43 am
Baru belajar juga, mba Dian. Silakan aja, mba di-link.
Indah Said:
on 12 October 2008 at 6:35 pm
semua kembali kepada Allah..
ema Said:
on 1 November 2008 at 1:59 am
ya kadang manusia dengan keangkuhanya lupa akan kematian padahal kematian kapan sj bisa menghampiri kita….semoga kita smua termasud dalam org2 yg ingat akan mati…amin
oia..mbk rini salam kenal dong…..kita bisa komunikasi lwt milis arma_limi@yahoo.co.id. phone 08524199974,,siapa tau pas aku jalan2 k kalimantan aku ada teman hehe e thx yaa
ine septya Said:
on 13 February 2009 at 3:36 pm
Lautan dunia begitu jauh lebih banyak menenggelamkan manusia dari pada lautan air…bagaimana bisa mengingat kematian,kalau dunia begitu indah untuk dinikmati….kecuali orang-orang yang sadar bahwa dunia hanyalah sebuah terminal kehidupan…