Aku terjaga dari tidurku, aku baru sadar kertas yang semalam aku baca berhamburan di sampingku. Ada sekelumit galau di dalam jiwa ini, membaca rangkaian ‘hati’ yang sudah aku ciptakan untuk diriku sendiri. Mungkin hari ini aku berada disini, bersama rangkaian hidup yang sudah diatur. Aku baru sadar, kemarin, kemarin lagi dan lagi aku belum pernah menghitung sudah berapa kemarin yang aku lalui.
Aku baru sadar ternyata hidup ini sudah hampir mencapai angka 26 dalam hitungan tahun, aku makin mendesis membayangkan, semakin dekat aku dengan kontrak hidupku, semakin jauh aku dengan bayi-bayi yang baru lahir, semakin dekat aku dengan tanggung jawabku.
Untuk hari ini, aku akan menyisihkan sedikit waktu, aku ingin mengerti mengapa hidup yang dulu aku jalani, kemarin, dan hari ini ternyata berdampak dan menggantikan semua kenangan saat ini. Eh, ya kenangan. Apa itu kenangan? Yang aku mengerti semua yang sudah aku lalui adalah lembaran di dalam setiap electronic diary-ku. Semua sudah tercipta dan aku telah melewatinya, entah sukses atau aku harus menangis, yang pasti aku telah melaluinya.
Aku ingin menghargai diriku sendiri, walaupun kelam dan pahit yang aku telan, tapi aku sadar inilah sunnatullah,… Setiap jiwa pasti akan di uji, aku gak boleh kalah dengan burung yang bisa terbang tinggi di angkasa, meskipun dalam keadaan lapar, meskipun dalam keadaan bersedih, tapi dia tetap terbang tinggi, dia sangat berterima kasih dengan Sang Maha Pencipta, yang telah memberi kesempatan kepadanya untuk bisa menghirup pagi, siang sore dan malam.
Tuhan begitu sempurna menciptakan kita, menciptakan semua yang ada, dan aku adalah bagian dari yang tercipta itu,… Ehm, aku harus berdiri tegar. Hari ini, dengan dua tangan dan dua kaki. Itu modalku. Aku juga punya anggota tubuh lain yang sempurna, aku juga mempunyai otak yang bisa membawaku kemana-mana tanpa tersesat. Dan yang paling penting dalam hidupku, aku punya Allah yang selalu mengiringi langkah hidupku.
Oia, aku lupa. Aku harus benar-benar berpikir sekecil-kecilnya agar kapalku tegak berjalan dan tidak bocor. Aku harus bisa mengendalikan kapalku. Aku harus bisa menjadi seorang navigator yang baik. Semakin baik aku membawa kapalku, semakin baik juga jalan dan gelombang yang aku jalani.
Hari ini, setahun yang telah lewat. Aku telah mengganti lembaran lama untuk aku jadikan catatan hidup paling berharga yang aku punyai. Setiap orang harus menemukan kebahagiaannya sendiri, begitu juga aku. Tapi detik demi detik aku telah menemukan kebahagiaan diriku, yaitu kebahagiaan paling hakiki, kebahagiaanku bersama “cinta” yang tidak pernah pudar, meski sejengkalpun. Kebahagiaan yang hanya bisa diberi oleh-Nya, hanya Dia. Dia-lah segalanya untuk hidupku, Dia-lah yang paling aku cintai dari apapun juga dan aku tidak akan mengkhianati-Nya dalam setiap jejak langkahku,…
Ya, aku telah memulai semenjak kemarin, kemarin dan kemarin,…
Kota debu Sengata, Medio Februari 2008