“De, bayinya sudah lahir, cepetan pulang,” begitu SMS dari kakakku, mengabarkan kalau istrinya telah selamat dalam proses persalinan dan anak pertama mereka telah hadir di dunia ini.
Kamis, 6 Desember 2007, pukul 12.35 WITA tepat dengan lantunan adzan Dzuhur, seorang anak laki-laki mungil lahir ke dunia. Muhammad Daffa Alfarezi, namanya. Kini, anggota keluargaku bertambah 1 orang.
Akupun bergegas menaiki tangga bis, aku dengan semangat meninggalkan kantor semenjak pukul 10 tepat tadi, hanya ingin melihat keponakanku yang baru. Bahkan adikku, dengan semangat berangkat menggunakan pesawat pertama dari Jogjakarta tadi pagi, hanya ingin melihat anggota baru di keluarga kami.
Perjalanan Sengata-Samarinda yang biasa tidak terasa jauh, kini bagiku seperti sehari-semalam berada di dalam bis. Ah, lama sekali rasanya, keluhku. Menit demi menit sangatlah berharga bagiku,.. Aku ingin segera sampai. Aku ingin melihat ’seorang’ anggota baru di keluarga kami, karena dia lah anggota pertama di antara kami,..
Sesampai di Rumah Sakit, aku bergegas menuju kamar bayi.. Subhanallah, ..gumamku. Seorang bayi mungil, dengan tangan, kaki, badan dan semua yang serba mungil… Lama aku mengamati seluruh tubuhnya.
Sejenak aku terpaku, begitu agung dan sungguh benar-benar indah ciptaan Allah. Melalui seorang bayi, yang baru beberapa jam lalu menghirup udara yang namanya ‘Dunia”. Semua manusia dulu asalnya seperti itu. Di sanalah nyata terlihat kebesaran Allah. Makanya hendaklah kita hanya bersujud kepada Allah. Karena Allah berfirman, “Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan mereka hanya bersujud kepadaKu.” Begitu komentar bapakku ketika aku terkagum-kagum melihat bayi mungil di depanku.
Ya, aku ingat. Dari sebuah hadist, manusia itu sudah ditetapkan semua perihal kehidupannya semenjak 50ribu tahun sebelum dia hadir di dunia ini. Lama sekali ya.. Kehidupan itu sudah ditetapkan dalam sebuah kitab Lauh Mahfudz, ada 4 yang ditetapkan disana, hidup, mati, bahagia, celaka kita. berarti tiap-tiap detik langkah kita itu sudah direncanakan Allah, tinggal kita menjalaninya. Dan hidup itu juga adalah pilihan, bila kita memilih jalan yang baik, ada resiko dan jalan yang sudah ditetapkan, begitu juga sebaliknya.
Dan aku pernah mendengar cerita bijak dari seorang da’i. Kata beliau, kehidupan itu seperti lautan, mengarungi kehidupan itu seperti mengarungi lautan. Lautan itu dalam dan luas, untuk mengarunginya harus memiliki kapal yang kuat. Begitupula kita harus mempunyai bekal yang banyak agar tidak kelaparan di tengah perjalanan dan untuk bekal kita agar bisa melewati lautan itu. Kapal yang kuat, bekal yang banyak tidaklah cukup bila tidak dibarengi dengan awak kapal yang tangguh dan sabar dalam menghadapi ombak yang besar.
Ya, kehidupan itu panjang dan jauh, butuh bekal hidup untuk sampai ke tujuan, yaitu bekal kita untuk di akherat kelak. Dan untuk mengarungi kehidupan dengan segala ujiannya kita harus kuat dan tangguh, sabar dalam menghadapi segala ujian yang tidak pernah lepas dari diri kita.
Semua yang terjadi dalam kehidupan ini, adalah rencana, ketetapan dan semua itu juga pilihan kita.. Semua telah digariskan, dari kita lahir hingga kematian kita. Dan karena itu jadilah kita sebagai insan yang selalu ingat akan penciptaan, dan selalu ingat kepada-Nya.
(Buat kakakku, selamat mendapatkan momongan yang baru, semoga menjadi anak yang shalih, bisa menjadi mujahid untuk dunia dan akherat..)
Artikel ini ditulis 16 Desember 2007





aa Said:
on 16 April 2009 at 2:22 pm
wah..
bayinya lucu sekali..