Sungguh hidayah itu datang tidak pernah disangka, hidayah datang kepada kita tidak peduli pada saat itu kita siap atau tidak,… Aku baru menyadari suatu kebesaran Allah yang melintas di hatiku walaupun itu hanya melalui ’sedetik’ pertemuan,…
Namanya At-Tin, artinya buah Tin. Aku kenal dia 4 tahun yang lalu. Waktu itu kami sama-sama bekerja di perusahaan batu bara di tengah belantara hutan Kalimantan. Hidup di tengah-tengah hutan dan bekerja dengan mayoritas kaum adam, kami berteman akrab.
Banyak suka duka yang sering aku kerjakan bersama dia, karena kami memiliki selera yang sama, dari pakaian, musik ataupun senang menonton film-film drama komedi. Kami sama-sama menyukai lagu-lagu ‘Glen Fredly’, dan sering memajang foto vokalis ‘Ada Band’ di dompet kami. Pernah suatu hari kami bercanda kalau di antara kami ada yang menikah, kami berdua akan mengenakan jilbab besar sebagai hadiahnya…
Tapi setelah beberapa bulan berteman, kami berpisah. Aku pindah kerja di perusahaan dekat dengan rumahku di kota, begitu pun dia entah kemana aku tidak lagi menyimpan nomor Hp-nya. Hari berlalu begitu saja, dan aku menginjakkan kaki di Sengata ini, sebuah kota kecil nan tenang yang jauh dari keramaian kota. Aku sekarang bekerja di pemerintahan.
Di sisa-sisa waktu luangku setelah bekerja aku gunakan untuk mengikuti beberapa pengajian di kota ini. Sebagai ‘warga’ baru di pengajian itu, mungkin aku menjadi pusat perhatian para akhwat dan umahat yang telah lama menjadi jama’ah disini. Mayoritas mereka bercadar. Kecuali aku dan beberapa akhwat yang bekerja di swasta dan pemerintahan.
Sore itu, adalah pertemuan kedua dari dua kali kegiatan yang aku ikuti. Tiba-tiba ada seorang akhwat yang masih mengenakan cadarnya duduk mendekati aku, aku agak menggeserkan dudukku. Aku pikir dia ingin duduk di tempatku.
Kemudian akhwat tadi menyapaku. “Rin,..” Aku menoleh seketika, aku kenal suaranya. Aku kenal dengan suara itu, suara yang tidak fasih menyebut huruf “R” sebagai huruf depan namaku. Aku kenal dengan alis dan matanya meskipun tertutup cadar.
“Subhanallah !!!”, jeritku,.. Dia lantas membuka cadarnya di depanku, aku benar-benar terpenjat,..
Aku tak percaya,.. Dia tersenyum di hadapanku.
Ya Allah… Dia adalah temanku. Temanku yang 4 tahun lalu sekamar denganku sewaktu kami masih bekerja di ‘tengah hutan’, temanku yang dulu ‘hilang’. Dia yang sama seleranya denganku, dari cara berpakaian, sampai gaya hidupnya. Tapi siapa sangka, Allah memilihkan jalan lain untuknya dan juga mungkin untukku,.. Karena Allah jua kami bertemu lagi. Tapi kini dengan keadaan yang berbeda.
Tidak ada lagi sapuan make-up di wajahnya, tidak ada lagi keusilan yang dulu sering kami lakukan. Semua hilang tak berbekas. Dia bercerita kepadaku, sampai akhirnya dia di sini, di kota ini. Di kota yang telah dipilihkan Allah untuk aku bertemu kembali dengannya. Dia telah menikah dengan ikhwan yang sekarang bekerja di perusahaan batubara terbesar di sini.
Dia sempat 1 tahun berada di pondok pesantren, karena orang tuanya tidak setuju dengan prinsipnya. Mereka tidak mau dia mengenakan cadar,..”Walaupun manusia menjauhiku, tapi bagiku ridha Allah itu lah yang terpenting,..”, begitulah jawabannya kepadaku. “Kecantikan itu harus ditutupi, hanya untuk suami kita bisa berbagi. Hanya untuk suami kita tampil cantik,…” Sekelumit jawaban yang merupakan pencerahan hidupku.
Begitu indah jalan dan hidayah yang telah Engkau kirim untuknya. Seorang hambaMu yang mungkin merasa keindahan dunialah segala-galanya tapi dengan ijin-Mu dan dengan kebesaran-Mu, dia menjadi orang-orang yang telah Engkau pilih untuk menapaki jalan lurus-Mu dan berdakwah di jalan-Mu. Seorang teman yang sekarang sudah mengenakan busana tertutup rapat, serba hitam lengkap dengan cadarnya. Hanya karena inginkan ridho-Mu, dia rela harus tampil ‘aneh’ di dunia ini. Seperti katanya, biarlah manusia menghinakanku yang penting Allah memuliakanku,..
Setelah pertemuan itu aku sering bertandang ke rumahnya sepulang dari kerja, kebetulan suaminya baru pulang kerja jam 5 sore. Kami bercerita apa saja kegiatan selama kami berpisah, meski kini sudah tidak ada lagi saling semir-menyemir rambut. Tidak ada lagi percobaan baju seperti yang dulu kami lakukan di camp kalau lagi jenuh. Tiada henti aku bersyukur atas kebesaran Allah akan pertemuan ini. Aku ingat kata-kata yang pernah kami lontarkan, kalau di antara kami ada yang sudah menikah kami akan mengenakan jilbab besar,.. dan mungkin apa yang kami ucapkan itu adalah doa yang sungguh menjadi mustajab sekarang,…
Sepekan yang lalu dia berpamitan denganku, dia mengikuti suaminya pindah kerja di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Sekalian pulang ke ‘kampung’ halaman suaminya di Lubuk Linggau. Aku ingat dulu dia pernah bilang ke aku,.. “Sekali-kali tinggal di luar Kalimantan neng (dari dulu dia selalu memanggilku Oneng, karena katanya aku mirip Oneng di serial Bajuri, menurutnya aku ini cerewet dan agak telmi seperti Oneng), bosen juga di Kalimantan terus,…” Mungkin itu kalimat spontan yang sering kami lontarkan, sekali lagi merupakan doa untuk diri sendiri.
Perpisahaan ini membuat hatiku sepi, karena baru saja Allah mengembalikan dia kepadaku, kini harus berpisah lagi,.. Tapi aku sadar akan ‘masa’ di dunia ini, setiap awal mesti ada akhir, setiap pertemuan pasti ada perpisahaan, semua ada saatnya,.. Ada saatnya nanti aku akan bertemu lagi dengan dia.
“Tetap komunikasi dan berukhuwah ya Neng,.. tetap istiqomah ya, jangan lupa selalu tawakal apapun yang terjadi selalu ingat akan Allah,..” begitu pesan-pesannya via SMS. Aku selalu tersenyum jika membaca keluhan dia selama beradaptasi menjadi orang ‘Sumatera’.
“Sabar, semua ada akhirnya, nanti juga kamu pasti bisa cocok dengan keadaan di sana, jalani aja,” itulah jawaban yang sering aku sampaikan kepadanya.
Suatu hari aku yakin kita pasti akan ketemu lagi, entah itu dimana di suatu tempat yang sudah dipilih Allah karena aku yakin Allah sedang mengatur pertemuan untuk kita. Sungguh aku tidak pernah menyangka, saat-saat kami mencari ridho Ilahi, kami dipertemukan kembali. Walaupun aku dan dia sudah tidak menyimpan nomor Hp dan tidak pernah berkomunikasi lagi, tapi dengan ijin Allah segalanya tidaklah sulit..
Semoga kami bisa tetap mempertahankan ukhuwah ini, semoga kita tetap istiqomah dan berharap ridho-Nya, dan semoga sepenggal waktu pertemuan ini menjadikan kita tetap bersahabat karena Allah walaupun hanya melalui SMS.
“Jangan ganti-ganti nomer lagi ya Neng,..” begitu pesan yang selalu aku baca darinya.
“Ya Tin, nomor ini akan aku pakai sampai akhir hayatku,..” batinku.
Artikel ini dikirimkan ke redaksi Hidayatullah pada tanggal 24 November 2007.

mumtazanas Said:
on 10 November 2008 at 6:20 am
Barokallohu fiikum semoga segera diikuti jejaknya
Cetec Said:
on 20 November 2008 at 11:28 pm
“Kecantikan itu harus ditutupi, hanya untuk suami kita bisa berbagi. Hanya untuk suami kita tampil cantik,…”
seandainya saja seluruh wanita didunia mengatakannya, Niscaya Allah akan menurunkan Rahmad kepaada penduduk. sungguh indah!!!
jonkepri Said:
on 16 July 2009 at 11:12 pm
aslmkum ukhti
slm ukhuwh