satu kesetiaanku adalah baktiku

sejak setahun yang lalu, ketika engkau sudah tidak sanggup untuk bekerja lagi hingga engkau terbaring lemah, tak berdaya dan tidak bersuara..
hatiku seakan-akan diruntuh oleh langit, merundung kesedihan di atap rumah kita..
bocor atap rumah ini tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan, kotornya lantai tanah rumah ini terasa dingin dihatiku..
melihatmu terbaring lemah tak berdaya, entah sampai kapan engkau merasakan pedih ini..

aku hanya menjalankan sebagian kesetiaanku disisimu
memasakkan makanan kesukaanmu, meskipun engkau sudah tidak bisa merasakannya,
membukakan horden jendela kamar untukmu setiap pagi, memandikanmu dalam polesan kain kusut itu..
membiarkanmu mendeengarkan kicauan burung dipagi hari hingga aku tau meskipun wajahmu tidak tersenyum, tapi sebersit senyum menyelinap di sisi wajah indahmu..

engkau terbaring lemah tak berdaya, dengan sedikit penghasilan yang aku dapatkan
mungkin hari ini kita makan sayur lagi, dan hari ini aku masakkan special buatmu
aku tau kamu tersenyum mendengarnya…

hingga aku selalu bertanya pada Alloh..
seberapa lama semua ini kamu rasakan?
seberapa lama air mata dan tangis yang selalu aku sandingkan bila membasuhmu
hanya Alloh yang mengerti jawabannya…

aku tidak pernah menyesali semua ini..
meskipun kemiskinan mendera kita, dan kelumpuhanmu membekas dihatiku
tapi aku tetap mencintaimu
mencintaimu hingga itu aku jadikan keputusan terakhir untuk hidupku
aku akan tetap tersenyum di hadapanmu
karena engkau adalah semangatku hari ini

semua adalah baktiku padamu
bakti kesetiaan yang bisa aku berikan
hingga seluruh alam akan tersenyum pada kita
meskipun kemiskinan mendera kita,
tapi aku tau disurga kelak kita akan menjadi kaya
di surga kelak, rumah itu akan lebih indah
disurga kelak, kita tidak akan tidur dengan atap bocor lagi
disurga kelak, kita tidak akan berlantaikan tanah lagi…
disurga kelak engkau akan bebas berlari dan bekerja lagi
disurga kelak kita akan mengenakan pakaian yang bagus

sabar suamiku..
seluruh alam akan tersenyum pada kita
dan Alloh akan bangga pada kita..
karena kita bisa bertahan dengan ini..
suamiku..
jangan pernah sedikitpun jauhkan mata kita dari nikmat-Nya,
jangan pernah sekalipun menjauhkan mulut ini untuk selalu bersyukur kepada-Nya
karena Dia kita pernah ada di sini,
karena Dia kita pernah merasakan seperti ini

suamiku,…
jalankan peran kita sebaik-baiknya..
didunia ini beginilah peran kita…
suamiku..
inilah satu dari kesetiaanku..

tanah merah
5 Mei 2009
dedicated to ibu “hadrah” ibu masak ponpes
ibu, terima kasih untuk pelajaran hatinya buatku..:)

Ikhlaslah ukhti, insyaAlloh surga akan menantimu

Dia adalah salah seorang umahat di tempat kami. Seorang yang pendiam menurutku. Tidak pernah terlintas sesuatu dari bibirnya bila itu tidak terlalu penting. Seperti hari itu, dia datang terlambat. Dengan berlari-lari kecil, karena sudah tertinggal beberapa menit. Dengan nafas terengah-engah dia duduk disebelahku.                                                                                                                “sudah lama kajiannya?”tanyanya membuka pembicaraan denganku.

“baru aja um, 10 menit-lah”jawabku mengira-ngira.

Kemudian dia terdiam dan mendengarkan kajian yang disampaikan oleh murobi kami. Seperti biasa, dia hanya diam dan diam. Sesekali aku melirik ke arahnya. Wajahnya tampak tenang dan teduh.

“um, anak-anaknya kemana?”tanyaku iseng. Dia meoleh ke arahku dan tersenyum.

“sama uminya, nanti malam saya ambil dengan abinya”jawabnya singkat. Aku hanya menyeritkan dahi. Maksudnya?

“umi mana nih um?”tanyaku lagi.

“umi kandungnya. Ana kan umi asuh”dia tertawa kecil. Ada umi kandung, ada umi asuh. Berarti ada abi kandung, ada abi asuh. Hubungan yang lucu. Percakapan itu berakhir dan hingga selesai aku tidak pernah bertanya lebih tentang hubungan aneh itu. Selang sepekan kemudian, dia datang lagi berserta anak-anaknya mengikuti kajian. Kali ini duduk persisi disebelahku lagi.

“subhanAlloh, sore-sore udah ikut umi ngaji ya?”tanyaku pada anaknya yang perempuan.

“iya, uminya sedang pergi, jadi ana yang bawa kesini”

“oh, uminya dimana um?”

“ana uminya juga” Benar, ini hubungan yang aneh. Belakangan, dari pembicaraan tidak sengaja seorang teman. Aku baru tau kalau dia adalah pelaksana poligami. Aku baru tau, dia istri ke dua. Istri pertama sang suami memiliki 5 orang anak yang masih kecil-kecil dan dia berbagi tugas dengan sang madu. Subhanalloh. Beberapa hari sekali dia mengasuh anak-anak itu, apabila sang madu sibuk, dia dengan suka rela mengasuh dan menjadi anak-anaknya. Suatu hari aku pernah bertanya kepadanya tentang sebuah poligami, dengan hati yang ikhlas dia mengatakan, bahwa apa yang dia lakukan itu semata-mata karena Alloh, perjuangan untuk Alloh. Sebelum menikah,banyak ikhwan yang mengincar untuk menjadikannya istri, tetapi ketika sang suami sekarang melamarnya dengan cara dipoligami, dengan keikhlasan dan keridhaan dia menjalani dan menerima pinangan itu.

“dia menyelamatkan saya untuk ke surga mbak, tau gak kalau kita ikhlas dipoligami, pintu surga akan terbuka lebar untuk kita”

“Alloh tidak pernah menzalimi hamba-Nya, saya bersyukur mbak, dengan dipoligami banyak ibadah-ibadah yang tidak pernah saya sadari sebelumnya bisa saya kerjakan dan insyAlloh akan dibalas oleh Alloh”

“saya mengasuh anak-anak yang bukan anak saya, dan itu bernilai ketenangan dan luar biasa indahnya buat saya, suami saya bisa berlaku adil terhadap kami, beliau bisa menjalankan amanah dengan dua istri, dan saya bisa menjaga hubungan silaturahmi dengan istri pertama suami saya dan ikut mendidik serta membesarkan anak-anak mereka dengan balutan kasih sayang Alloh untuk mereka, banyak ibadah yang disampaikan Alloh melalui poligami yang kita sendiri tidak pernah menyadarinya”

“semula saya berfikir, poligami menzalimi perempuan, tapi tahukah mereka, bahwa dengan hati yang ikhlas dengan hanya berharap itu ibadah kepada-Nya, pintu surga akan terbuka lebar untuk kita”

subhanAlloh, Allohu ya Kariim, tiada henti aku bertasbih kepada-Mu, Engkau Maha bijaksan dengan segala ketentuan-Mu. Dengan tulus ikhlas dia berkata :

“jika ukhti ikhlas dengan semua ketentuan Alloh dan menjadikannya ibadah untuk-Nya, ketentraman dan surga akan ada dihadapan anti…

” Allohu Rabbi, tiada kata indah yang Engkau ciptakan untuk kami kecuali keikhlasan dan kesabaran dalam mengarungi kehidupan dan seisinya ini..

Wanita, relakah engkau dipoligami?dengan balasan surga menantimu, jika kau mengharapkan ridha-Nya, Dia akan limpahkan segalanya buatmu…

Wanita, relakah engkau menjalankan dunia untuk-Nya?meski didunia ini engkau akan dipandang sebelah mata sebagai istri kedua?tapi tahukah engkau dibalik semua ini, ada kemuliaan dihadapan Alloh untukmu yang melakukan perintah-Nya?

Wanita, inilah ujian untukmu…bila engaku mampu meraih dan melewatinya, surga akan terbentang luas dihadapanmu…

samarinda, medio januari 2009 teruntuk seorang wanita sholehah perindu surga…aku melihatnya terkahir, dan setelah ini aku tidak pernah bertemu dengannya lagi,,

Engkau ada karena Dia

Engkau ada karena Dia,…

aku menuliskan kaliamat itu di electronic diaryku,,

aku terkenang akan dirimu, walaupun semula aku tidak begitu tertarik untuk mengenalmu, mengapa?

karena aku tau banyak yang akan menentang kita. tapi, aku berjibaku dengan diriku, berjibaku dengan jiwaku. aku sekuat tenaga dan hati untuk melawan semua kekuranganku, dan aku putuskan untuk bertanya pada-Nya,,

engkau ada karena Dia,,

aku memikirkan kata-kata itu lagi,

em, sepertinya Dia lebih tau dan lebih mengerti aku ketimbang orang tuaku, bahkan aku sendiri.

Dia lebih tau siapa yang lebih cocok menjadi pendampingku kelak dalam menghadapi diriku, subhanAlloh,,sungguh Dia benar-benar mengatur segala urusan hamba-Nya.

aku membuka dan memutar kalimat itu lagi,

dan aku yakin,,

aku mencintaimu karena kamu mencintai-Nya dan aku mencintai-Nya,,

semoga semua indah ditujukannya untuk kita, semoga apa dan bagaimana kita hingga akhirnya dalam petunjuk-Nya.

Kepergian Seorang Juru Dakwah

Berdakwahlah dengan cinta. itu kata-kata hebat yang pernah aku dengar dari seorang kader dakwah. hingga 3 bulan sejak kepergiannya, aku selalu menyelinapkan kata-kata itu didalam hatiku. betapa tidak, ketika mendekati ajalnya, seorang juru dakwah yang amat sangat setia memikirkan umat itu meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. bersama keluarga tercinta, hendak menjangkau ke daerah terpencil di pedalaman kalimantan, sang murobi itu meninggal dalam kecelakaan sepeda motor ketika hendak mengisi pengajian.

kira-kira setahun yang lalu aku mengetahui tentang profil pak Pur. seorang bapak yang berhati mulia dan selalu rendah diri. padahal di perusahaan tempat dia bekerja, beliau termasuk orang yang disegani dan beliau menduduki salah satu jabatan tinggi dalam struktur organisasi perusahaan. bagi kami, pak Pur sudah menjadi seorang pendidik yang baik dan pembentuk pribadi insani yang baik. banyak mad’u yang menantikan kehadiran dia disetiap pengajian yang dia bawakan. umurnya masih muda 32 tahun. tapi kharisma beliau begiku melekat dihati setiap insan yang mengenalnya. aku ingat pesan beliau kepada kami, “dakwah itu lebih utama dari yang lain, utamakan menjadi pelayan Alloh SWT daripada mengejar harta dan kesenangan dunia yang tidak pernah habis”. terbukti, beliau bekerja dari senin sampai jum’at, sabtu dan ahad perusahaan tempat beliau bekerja libur. dua hari itu beliau gunakan untuk berdakwah keliling bersama keluarga, dengan 1 orang anak yang masih kecil berusia 11 bulan. kadang bersama sang istri dan anaknya mereka datang ke kampung-kampung untuk mengadakan pengajian menggunakan sepeda motor. SubhanAlloh, begitu indah keluarga di rindu surga itu. tujuan saya bukan untuk mencari pujian atau mencari populer di hadapan orang lain, tapi saya ingin semua umat yang mengaku islam benar-benar mengenal islam. beliau pernah berdakwah ditengah-tengah lokalisasi yang benar-benar jauh dari islam, tapi subhanAlloh satu persatu wanita tunasusila disana diberi hidayah oleh Alloh SWT.

Alloh SWT mencintai hamba-Nya yang selalu mengajak kepada kebaikan dan Dia akan membalas lebih dari apa yang diperbuat hamba-Nya itu untuk selalu mengingatNya. subhanAlloh, ketika pak Pur mendekat kepada ajalnya. beliau beserta anak dan istrinya hendak melakukan dakwah keliling ke pelosok-pelosok pedalaman kalimantan seperti biasanya. dan Alloh SWT memanggil beliau dengan cara yang lembut. kecelakaan itu membawa beliau insyaAlloh syahid dihadapan-Nya. ketika beliau mengalami kecelakaan, mayatnya memancarkan bau yang sangat wangi seperti yang disaksika orang-orang sekitar yang menyaksikan kematiannya. wajahnya tersenyum bahagia, ternyata tugasnya di dunia sudah ditunaikannya sebagai juru dakwah Alloh SWT. menurut pengakuan sang istri, sebelum berangkat untuk berdakwah pak Pur tampak lain dari biasanya, pakaian yang dikenakannya sangat rapi dan beliau menggunakan wewangian agak sedikit berbeda dari biasanya. seperti biasa beliau memberikan nasehat untuk sang istri, tetapi kalimat saat itu ditambah, “jika ini dakwah terakhir kali, aku ingin Alloh SWT ridho dengan dakwahku, dan mensyahidkan aku ketika aku hendak berdakwah.” subhanAlloh seketika kami yang mendengarnya ikut tercengang, doa beliau didengar oleh Alloh SWT. dan Dia telah mewafatkannya dalam keadaan berjihad dan menjadikannya khusnul khotimah.


untuk sang juru dakwah, yang menjadi inspirasi setiap insan untuk berbuat kebajikan. semoga Alloh SWT menjadikan sebagai penghias taman-taman surga dan menjadikan amal yang terbaik disisi-Nya.

Hidup begitulah adanya

Mengingat ramadhan yang sudah-sudah, seakan-akan mengingatkanku kembali tentang sebuah potret kehidupan yang memang sering terjadi ditengah-tengah himpitan hidup masyarakat.

Awal ramadhan 1428 H, sore itu kami berencana untuk mengikuti ifthor di rumah salah seorang teman. Rumahnya berada di selatan kota Sengata, apabila kita ingin kesana, kita melewati perahu kecil yang bisa memuat motor dan pengemudinya. Masyarakat Sangata menyebutnya ponton.

Ba’da magrib, aku dan beberapa teman beserta ibunya teman berencana mengikuti shalat tarawih di sebuah sekolah kecil didaerah Sangata Sebrang. Kebetulan ibunya adalah kepala sekolah disana, jadi murid-muridnya diwajibkan untuk shalat tarawih disana. Ba’da tarawih, hujan deras mengguyur kota Sengata dan sekitarnya. Jadi kami memilih untuk menunggu hujan reda di dalam masjid beserta beberapa jama’ah. Sambil menunggu kami bercerita satu dengan yang lain, di iringi lari-lari anak-anak SD yang juga sedang menunggu hujan reda. “itu semua anak panti mbak,..”kata ibunya temanku. “oh ya, mereka ditampung disana bu?”. “ya, kebetulan Pak Tomo itu yang mengurus mereka, sama istrinya tuh mbak ngasuh anak-anak yatim sudah kayak anak sendiri,…”jelas ibu itu lagi. Subhanalloh ya, gumamku. “nah, kalau yang itu,…”kata ibu itu seraya menunjuk seorang anak lelaki kecil berbaju cokelat dan berpeci bulat. “namanya upik mbak. dia anak panti baru 3 bulan disini. Dia juga sekolah disini, sekarang kelas 3. Kemarin putus sekolah. Tapi di ambil pak Tomo dan disekolahkan lagi. Ibunya di antasari, dia punya sodara 2 orang, bapaknya sudah meninggal, ibunya kerja di ladang orang, adiknya yang paling kecil masih 10 bulan, kalau ibunya ke ladang adiknya di titipkan ke tetangga. Masuk panti 3 bulan yang lalu. Dulu anaknya nakal mbak, liar banget. Pertama kali masuk panti, suka mukul anak-anak disini, tiap ada yang nangis yang diganggu dia. Tapi Subhanalloh mbak, setelah dididik pak Tomo, sekarang anak itu sudah santun dan pintar, waktu pulang ke rumah ibunya kemarin tetangga-tetangganya pada nangis si upik sudah berubah…”terang ibu tadi. Ibu itu memanggil Upik, “bu hujan ini diciptakan oleh malaikat isrofil yah?”tanyanya. “loh, hujan itu ciptaan siapa?”tanya ibu tadi. “Alloh,..”jawabnya lantang. “kalau gitu malaikat ciptaan siapa?”, “Alloh”, “yang menciptakan hujan itu Alloh, malaikat itu adalah pelaksana perintah Alloh, jadi malaikat yang menurunkan hujan siapa?”Upik menepuk kepalanya sambil tertawa. “ya bu,..lupa”

Upik kembali bermain bersama teman-temannya. Senda tawa antara Upik dan teman-temannya menghiasi relung hati setiap insan yang mendengar suara-suara khas anak-anak. Ya, tawa yang seharusnya mereka miliki. Mereka tidak pernah tau apa dan bagaimana nasib mereka kelak berada dipanti asuhan. Yang mereka tau mereka punya teman sebaya, yang senasib. Mereka tidak pernah tau, yang membedakan mereka dengan anak-anak diluar sana adalah status mereka sebagai anak panti. Ketika mereka keluar panti, mereka disebut anak panti. Gelar yang tidak pernah mereka minta sebelum mereka lahir.

Jauh di pedalaman kota Sangata, ada sebuah panti asuhan yang atapnya selalu bocor kalau hujan deras, yang mereka berjumlah 20 orang hanya dididik oleh sepasang suami istri. Sementara jauh di tengah kota, terdapat kehidupan hiruk pikuk orang kota dengan segala kesibukannya. Mereka tidak pernah tau, bahwa di seberang sana ada sebutan anak-anak panti yang bakal anak-anak itu bawa hingga mereka besar kelak.

Mungkin bukan hanya mereka. Masih banyak upik-upik lain di penjuru dunia ini ditunjukkan Alloh di depan mata kita, untuk mengetuk hati kita sedikit saja. Apa kita masih peduli dengan kehidupan mereka, apa kita masih sayang dengan harta kita sehingga melupakan mereka yang bergelar anak panti?

Mereka hanya perlu sedikit saja, kasih sayang dan bantuan hidup yang ingin mereka juga rasakan seperti anak-anak lain yang bergelar anak mama, yang ditakdirkan untuk bersama-sama orang tuanya, mendidik dan mengasuh mereka sampai mereka bisa mandiri.

Yah hidup begitulah adanya. Kita tidak bisa memilih bagaimana nasib kita ketika hari beranjak dewasa. Besok adalah bayang-bayang semu dan impian yang mungkin akan terwujud atau tidak, hari ini adalah hasil dari impian kemarin. Tapi tetap kita tidak bisa memilih dari apa yang sudah dihamparkan Alloh dihadapkan kita,…

Mungkin upik-upik itu tidak pernah membayangkan akan mendapat gelar anak panti ketika ruh ditiupkan ke dalam raga,…tapi mereka tetap tertawa untuk menerima semua apa adanya, menerima semua hingga ruh mereka kembali kepada sang Pencipta.

Sesungguhnya Engkaulah yang Paling Mulia

Matahari sudah mulai naik 27 derajat. Tepat waktu Dhuha hawa mulai terasa panas. Kawasan Komplek Perkantoran Bukit Pelangi, Kota Sengata terasa lengang. Para pekerja pemerintah telah menempati posisi-posisinya masing-masing.

Tak jauh dari kesibukan dan rutinitas kantor pemerintahan, ada sebuah masjid yang lumayan besar, bisa menampung beberapa puluh jama’ah. Masjid yang sebagian dindingnya masih terkesan belum terenovasi dengan sempurna. Tepat di sebelah masjid, ada sebuah rumah mungil. Disana terdengar hiruk pikuk dan riuh renyah tawa anak-anak TK mulai dari bernyanyi, belajar membaca doa, berceloteh dengan teman-teman.

Sekilas terlihat sosok seorang wanita cantik nan ramah. Yah, dialah ibu yang akhir-akhir ini diberitakan media nasional maupun internasional tentang kawat yang muncul dengan sendiri dari perutnya. Aku sering mendengar isu dan berita miring yang dilancarkan orang-orang sekitar maupun media tentang apa yang sedang menimpanya.

Hasil CT Scan menampilkan perut penuh kawat

Hasil CT Scan menampilkan perut penuh kawat

Baca Selengkapnya »

Begitulah Jodoh Kita

Jodoh

Jodoh

Aku menyebut dia Inang Joko, aku kenal kira-kira 9 tahun yang lalu. Ketika kami sama-sama aktif menjadi komunitas partai mahasiswa di kampusku di Jogja. Kebetulan saat itu statusku masih Maba (Mahasiswa Baru) dan saat itu juga bertepatan dengan pemilihan Presiden Mahasiswa di kalangan elite politik kampus. Dan seperti sebuah negara, kami juga mendirikan partai yang mengusung calon presiden dari kalangan partai kami. Dan kebetulan aku menjabat sebagai sekretaris-nya

Inang Joko. Anaknya supel, dan terbilang gaul, mungkin begitu ciri khas anak-anak Fisip. Setelah berlalu pemilihan presiden mahasiswa, kami tetap berteman meski tidak seakrab dulu. Karena kampus kami berbeda, aku di Kampus Terpadu Condong Catur Ring Road Utara dan dia di Kawasan Babarsari. Selain itu juga kost kami sudah berjauhan, sewaktu dia masih kost di daerah Seturan, aku masih sering bertemu dia di rumah makan dekat kostku.
Baca Selengkapnya »

Usia 40

Umur 40 tahun

Umur 40 tahun

Berapa usia anda? Ada apa dengan usia 40 ?

Aku ingat beberapa waktu lalu. Aku dan temanku makan malam di warung bakso di seputaran Kawasan Teluk Lingga. Pengunjung di sana datang dan pergi, maklum warung bakso ini tergolong enak dan laris sekali di Kota Sengata. Kalau sore banyak pegawai-pegawai pemerintah yang bersantap setelah pulang kerja, dan apabila malam hari banyak karyawan perusahaan-perusahaan yang bersantap sepulang kerja di sini.

Dan kebetulan malam itu, aku dan temanku baru selesai dari rapat besar untuk agenda even olah raga di Sangata. Seketika kami didekati oleh teman kerjaku yang kebetulan malam itu juga bersama adiknya baru selesai menikmati sajian bakso Teluk Lingga.

“Makan malam nih Rin,..” sapanya. Aku hanya tersenyum.

“Oia, aku punya hajat Rin, mungkin tahun depan aku sudah 40 tahun, aku mau pakai jilbab,” serunya.

“Kenapa gak sekarang aja?” tanyaku.

“Belum, sekarang puas-puasin diri dulu. Habis itu baru jadi alim…,” sahutnya.

Baca Selengkapnya »

Tidak Ada Illah Selain Allah

Tidak ada Illah Selain Allah - Muhammad Utusan Allah

Tidak ada Illah Selain Allah - Muhammad Utusan Allah

Allah telah mengajarkan kepada umat manusia untuk beribadah hanya kepada-Nya, melalui para utusan-Nya. Allah mengajarkan kita untuk selalu bertauhid dan meng-Esa kan-Nya. Apapun bentuknya, segala yang kita jalani di muka bumi ini sudah digariskan-Nya dalam takdir kita masing-masing dan kita harus percaya dengan apa yang ditakdirkan itu.

Mempunyai anak yang masih lajang, bagi orang tua adalah kekhawatiran yang besar. Aku pernah mengalami sebuah kisah yang membuatku ingin tersenyum sendiri, bagaimana mungkin jodoh seorang manusia bisa ditutup oleh perbuatan manusia.

Di masyarakat sering mempercayai adanya mandi-mandi untuk kaum lajang yang belum menemukan jodohnya. Kepercayaan ini terus dilakukan dari suatu masyarakat ke masyarakat yang lain. Pernah suatu ketika, nenekku menawarkan mandi untukku. Dengan alasan hingga usia ¼ abad ini aku belum menemukan pendamping hidup.

’’Mungkin kamu itu ditutup orang, atau mungkin ada yang gak senang dengan kamu. Sini biar nenek mandikan, jadi semua yang dikirim orang ke kamu bisa terbuang dan kamu bisa cepat dapat jodoh,” begitu alasan nenekku ketika aku menanyakan untuk apa acara mandi-mandi itu.

Aku hanya bisa kaget dan bingung. Apa mungkin, orang belum menemukan pendamping hidupnya itu jodohnya ditutup? Bagaimana bisa, bukankah Allah yang menentukan kapan dan bagaimana cara kita menemukan seseorang yang terbaik untuk menjadi pendamping hidup?

Baca Selengkapnya »

Ketika Kehidupan Tlah Berakhir

Umur manusia itu bagaikan air di dalam gelas. Ketika diminum, akan semakin berkurang isinya. Dan akan semakin jelas bagaimana rasanya air tersebut. Begitulah umur dan kehidupan saling melengkapi. Ketika air sudah berkurang kita minum, begitupula umur kita, semakin jauh kita melangkah semakin berkurang pula umur yang ada didalam diri kita. Ketika kita minum, kita akan tau seperti apa rasa air tersebut. Dan kehidupan, ketika kita jalani, kita akan semakin mengerti bagaimana warna-warna kehidupan ini.

Soeharto dari Masa ke Masa

Soeharto dari Masa ke Masa

Semua pasti sudah menonton dan bahkan turut berduka ketika mantan Presiden RI ke-2, Bapak Soeharto telah wafat dalam usia 87 tahun. Bahkan mungkin semua sudah mengetahui bagaimana beliau mengalami sakaratul maut, dengan alat-alat kedokteran yang super canggih, yang katanya bisa membuat manusia bertahan hidup. Tapi apa ada kekuatan di dunia ini bisa mengalahkan kekuatan Allah?

Tidak ada yang pernah tau bagaimana kematian itu menghampiri kita, kapan akan tiba, dengan siapa saat kita menghadapi kematian kita. Aku cukup terhenyak, ketika mendengar ceplosan temanku. Manusia itu sudah menggali kuburnya sendiri, menyiapkan kuburnya sendiri, tapi kok manusia itu lupa nyiapin bekal untuk dia berada di dalam kuburnya nanti ya…

Baca Selengkapnya »

« Older entries